BLITAR - Syaikh Abu Hasan lahir pada tahun 1790 dan meninggal pada tahun 1899 di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sejak kecil, Syaikh Abu Hasan sudah terlihat cerdas dan tangkas hingga remaja, kemudian di usia remaja hingga dewasa beliau pergunakan untuk menuntut ilmu agama Islam di Mamba’ul Oeloem.
Pada usia 29 tahun, beliau dianugerahi tombak Dwi Sula dalam barisan komando guru besar Haryo Diponegoro atau yang kita kenal sebagai pangeran Diponegoro.
Tombak tersebut merupakan sebuah isyarat bahwa beliau merupakan penghulu yang taat, bermartabat, hebat dan kuat sehingga beliau menerima titah dakwah menyebarkan agama islam serta mempersiapkan misi jihad sabilillah untuk memperjuangkan kemerdekaan INDONESIA dari tangan penjajah Belanda di Berang Wetan (seberang Timur).
Syaikh Abu Hasan memiliki 7 orang anak, 4 empat putera dan 3 puteri. Ketika peranan dan ketokohan Syaikh Abu Hasan sangat dibutuhkan dan dirasakan oleh santri dan warga sekitar, genting perang Jawa mulai berkecamuk di wilayah Jateng dan DIY.
Pada saat itu, sebagian santri berangkatkan ke medan perang dan sebagian lain tinggal di pesantren bersama Syaikh Abu Hasan untuk tetap mempertahankan jihad secara ilmiyah tholabul ilmi.
Situs situs peninggalan Syaikh Abu Hasan dan Syaikh Abu Manshur diantaranya rumah Syaikh Abu Hasan dan rumah Syaikh Abu Manshur di Desa Kuningan yang hingga kini masih berdiri kokoh terawat dengan ciri khas rumah Joglo.
Selain rumah utama, beberapa peninggalan lain yang hingga saat ini masih terawat adalah bangunan pondok pesantren, masjid jami’ Nurul Huda, mimbar khotbah, tombak Dwi Sula, pedang dan sendang pasucen (kolam untuk bersuci).
Dari kesamaan yang ada menyimpulkan bahwa bangunan mewah tersebut merupakan hadiah dari Keraton Ngayogyokarto pada masa pemerintahan R. Hamengku Buwono ke VII. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Syaikh Abu Hasan dan Syaikh Abu Manshur.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra