Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Febrian Riski Pradana Putra, Guru Ponpes yang Juga Seniman Dark Art, Paling Diminati Distro Lokal

Aditya Yuda Setya Putra • Jumat, 12 Januari 2024 | 18:05 WIB
TELITI: Febrian Riski Pradana Putra menujukkan dua karya dark art yang baru diselesaikan di kediamannya.
TELITI: Febrian Riski Pradana Putra menujukkan dua karya dark art yang baru diselesaikan di kediamannya.

 

BLITAR - Dark art memang masih asing di telinga masyarakat. Padahal, jenis karya ini punya filosofi yang mendalam sebagai bentuk perlawan, sindiran, ataupun protes atas fenomena yang terjadi di lingkungan sebagai kultur budaya metal. Tiap titik dan arsiran yang ditorehkan oleh Febri memang tak boleh sembarangan. Oleh karena itu, dia harus memastikan setiap goresan alat tulisnya tepat dan presisi di muka kertas.

“Saya sudah menekuni dunia gambar ini sejak masih duduk di bangku SMP, tanpa bimbingan dari orang lain. Bahkan sampai sekarang masih suka perdalam seni ini secara ototdidak,” kata warga Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Garum ini.

Dalam prosesnya, inspirasi motif, tema, filosofi, hingga pengembangan ia pelajari dari berbagai sumber. Baik melalui sharing dengan kenalan yang sudah ahli, belajar mandiri, atau melalui media sosial (medsos). Menurutnya, seniman gambar di Kabupaten Blitar terbilang banyak, tapi tidak terlalu terekspos ke permukaan seperti halnya pegiat hobi lain.

Bahkan, dia mengungkapkan bahwa seniman dark art di Blitar tak lebih dari 10 orang saja. “Tidak banyak karena wadah komunitas yang tidak ada. Selain itu ya belum adanya wadah untuk pameran dan penjualan yang masih kurang di Blitar,” ujar laki-laki 22 tahun ini.

Febri yang juga aktif sebagai pengajar di salah satu lembaga pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Sutojayan ini mengaku, seni visual punya makna yang dalam karena di dalamnya ada unsur-unsur tentang kebebasan berpendapat. “Paling sering dark art digunakan untuk memprotes sosial dan agama. Selain itu juga bisa untuk memprotes pemerintahan,” ungkapnya.

Dengan menekuni bidang ini, Febri sadar betul bahwa seni masih dipandang sebelah mata. Namun, dia yakin bahwa seniman muda Blitar bisa terus berkarya. “Sekarang sudah tidak terlalu dipandang sebelah mata. Dari segi nominal, seni itu tidak ternilai. Yang menilai harga seni itu yang membuat,” ujarnya.

Disinggung soal nominal, dia mengaku bahwa harga satu karyanya bervariasi. Tergantung dari tingkat kesulitan dalam proses pembuatan. Tapi, hal ini juga didasarkan pada latar belakang pemesan. Jika pemesan merupakan warga Blitar, Febri biasanya tak mematok harga, tapi hanya menawarkan kerja sama.

“Kalau luar Jawa, saya menjual dengan sistem beli putus. Biasanya satu karya dari Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta dan bisa lebih,” ungkapnya.

Karyanya juga tak jarang digunakan untuk cover album band, pakaian distro, logo band, backdrop event, hingga merchandise. “Paling sering untuk baju-baju distro lokal. Tentunya dengan harga berbeda-beda. Jika dalam event besar, uang yang didapat bisa di atas Rp 7 juta meskipun terbilang persenan,” akunya. (*/c1/dit)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#ponpes #guru #dark arts