BLITAR - Salah satu kota di Jawa timur yang menyimpan banyak sejarah adalah Blitar. Bahkan kota ini dijuluki sebagai Kota Proklamator lantaran menjadi lokasi pemakaman Proklamator Kemerdekaan sekaligus Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno.
Belum banyak yang mengetahui jika ada beberapa tokoh nasional lainnya yang berasal dari Blitar. Tokoh – tokoh ini tentunya memiliki jasa yang luar biasa untuk Indonesia, bahkan mulai dari zaman penjajahan dahulu kala.
Cerita perjuangan Shodanco Soeprijadi dan tentara PETA Blitar memberontak penjajah Jepang amat terkenal. Mozaik perjuangan pasukan PETA terus dikenang oleh Bangsa Indonesia hingga saat ini.
Memiliki nama lengkap Fransiskus Xaverius Soeprijadi, pria kelahiran 13 April 1923 ini juga dikenal dengan nama Sodancho Soeprijadi. Ia merupakan anak dari bupati Blitar di era kemerdekaan, Raden Darmadi. Soeprijadi memimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap Jepang yang menduduki Blitar pada Februari 1945.
Kisah perjuangan Soeprijadi dan tentar PETA Blitar telah dikenal khalayak luas, bahkan hingga saat ini masih dikenang oleh Bangsa Indonesia sendiri. Meski berakhir dengan kegagalan, namun semangat tentara peta di bawah komando Soprijadi turut membangkitkan gelora pejuang lainnya hingga akhirnya Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan.
Nama pejuang lainnya yang berasal dari Blitar adalah Soekarni. Meski namanya tak banyak dielu – elukan, namun ia memiliki peran penting di balik sejarah proses pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI.
Kala itu, Soekarno adalah perwakilan dari kelompok muda yang mendukung pasangan Soekarno – Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945. Ini membuatnya masuk dalam golongan para pemuda yang melakukan penculikan terhadap kedua pemimpin tersebut ke Rengasdengklok, Jawa Barat.
Sejak cilik, Soekarni memang amat membenci Belanda. Ia yang lahir pada 14 Juli 1916 ini besar dengan catatan sering berkelahi melawan anak – anak Belanda. Pemikirannya ini juga tak luput dari gurunya, Mohammad Anwar, yang juga merupakan tokoh pergerakan Indonesia saat itu.
Menginjak usia 14 tahun, dia sudah bergabung dengan organisasi perhimpunan Indonesia Muda. Sikap pejuang dan pemikiran kritisnya pun semakin terbentuk, hingga ia yang baru berusia 20 tahun didapuk sebagai ketua Pengurus Besar Indonesia Muda.(hak)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila