BLITAR - Puluhan papan anyaman berisi kerupuk eyek-eyek berjejer di pelataran rumah Hartini, warga Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat. Kerupuk yang masih mentah itu sedang dijemur sebelum diolah menjadi camilan nikmat.
Ya, Hartini merupakan salah satu produsen kerupuk berbahan dasar singkong tersebut. Rasa kerupuk eyek-eyek sama seperti kerupuk sadariah. Gurih dan renyah.
Keduanya memang berbahan dasar singkong. Dari segi tampilan, kerupuk sadariah lebih tipis, sedangkan kerupuk eyek-eyek sedikit tebal dan berbentuk abstrak.
Hampir 30 tahun, Hartini memproduksi kerupuk eyek-eyek. Saat ini perempuan 55 tahun itu dibantu dua orang tetangganya untuk membuat kerupuk eyek-eyek. Usaha tersebut kini lebih banyak di-handle oleh sang anak, Yuanita. “Sekarang saya cuma bantu yang ringan-ringan. Ganti anak saya yang meneruskan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Usaha produksi kerupuk tersebut merupakan usaha turun-temurun keluarga. Kini usaha tersebut ditangani oleh sang anak. Mempertahankan resep turun-menurun adalah kunci kerupuk eyek-eyek tetap digemari. Tak hanya warga Blitar, tetapi hingga luar daerah seperti Tulungagung dan Kediri. Sesekali juga ke Surabaya dibawa oleh sanak saudara yang berkunjung.
“Biasanya orang beli untuk oleh-oleh. Kalau di kota kan tidak ada kerupuk eyek-eyek,” jelasnya.
Kerupuk eyek-eyek berbahan dasar singkong. Hartini memilih singkong yang ditanam di sawah karena memiliki tekstur yang lebih empuk. Dengan begitu, kerupuk yang dihasilkan juga renyah dan gurih.
Cara membuatnya, pertama singkong dikupas dan dipotong menjadi ukuran yang tidak terlalu besar. Setelah dicuci bersih, singkong digiling dengan mesin penggiling hingga menjadi bubur.
Selanjutnya, bubur singkong ditambahkan tepung tapioka sebagai bahan dasar kerupuk. Setelah diuleni dengan merata barulah dicampur dengan bumbu. Yakni, ketumbar, kemiri, bawang putih, dan garam. “Ada adonan yang diberi warna merah, ada juga yang orisinal,” tambah ibu dua anak ini.
Adonan kerupuk eyek-eyek dimasukkan dalam mesin pencetak khusus. Seperti membuat kerupuk uyel. Kerupuk eyek-eyek dibentuk kotak seperti mi keriting. Proses ini membutuhkan kecekatan agar menghasilkan bentuk yang rapi.
“Karena adonan itu keluarnya cepat, jadi harus sat-set. Walaupun bentuknya random, tapi harus rapi,” jelasnya.
Setelah itu, kerupuk dijemur sampai benar-benar kering. Jika cuaca terik butuh waktu 1-2 hari. Namun, saat musim hujan, Hartini mengaku tidak berani membuat banyak adonan. Sebab jika tidak segera kering, kualitas kerupuk bisa menurun. Hal itu akan memengaruhi cita rasa kerupuk setelah digoreng.
“Kami produksi dua hari sekali. Hari pertama buat adonan, besoknya dibungkus. Kalau cuaca normal dan panas, dapat 20 kilogram untuk dua hari. Kalau musim hujan ya cukup 10-15 kilogram,” tandasnya. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila