BLITAR - Sejumlah pohon beringin di sisi timur Alun-Alun Kota Blitar mulai dirabas. Perabasan dilakukan sejak Selasa (9/1) lalu. Itu dilakukan imbas salah satu pohon tumbang usai diterjang angin kencang. Sedikitnya 10 orang mengalami luka-luka akibat tertimpa pohon.
Pantauan di lokasi, kemarin (10/1) pukul 13.00, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar mulai merabas ranting dan dahan pohon beringin. Beberapa petugas menaiki mobil skylift untuk menjangkau dahan yang tinggi. Beringin yang mendapat perawatan itu di sisi timur, berdampingan dengan lapak para pedagang kaki lima (PKL).
Sekretaris perkumpulan pedagang Bumi Proklamator (Perdamitor), Septy Rofita mengatakan, pedagang di sekitar lokasi kondusif saat petugas melakukan perawatan pohon. Rencananya akan ada lima titik pohon beringin yang dirabas.
“Kami takutnya kalau tidak ada pengeprasan, keseimbangan pohon tidak ada. Kalau cuaca ekstrem khawatir terjadi lagi pohon tumbang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (10/1).
Dia menilai perawatan itu merupakan hasil dari audiensi antara paguyuban pedagang dan DLH Kota Blitar pada Senin (8/1) lalu. Para pedagang meminta agar dinas segera turun tangan merabas ranting-ranting pohon. Sebab, pohon dikhawatirkan roboh bahkan tumbang saat hujan ekstrem.
Melalui langkah tersebut, kata dia, pedagang lebih lega ketika berjualan. Pedagang juga tidak keberatan untuk libur beberapa hari ketika perabasan pohon berlangsung. “Kami tidak apa-apa kalau harus libur dulu. Karena ini menyangkut keselamatan semua. Tidak jadi beban,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala DLH Kota Blitar Jajuk Indihartati mengakui telah menerjunkan petugas untuk merabas sejumlah pohon di sisi timur. Perabasan itu untuk mengantisipasi dahan lapuk yang berpotensi jatuh serta meminimalisasi pohon tumbang. “Betul, sudah kami tindak lanjuti, untuk mengurangi dahan-dahannya yang rawan patah,” jelasnya.
Meski begitu, perabasan dilakukan secara hati-hati dan terukur. Pasalnya, pohon tersebut menjadi habitat utama burung kuntul. Hewan ini termasuk satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Bumi Bung Karno.
Dia memastikan tetap mempertahankan habitat burung blekok tersebut. Strategi yang diterapkan DLH yakni hanya memotong ranting-ranting yang berpotensi patah. “Yang dikurangi hanya dahan, tidak dipotong secara keseluruhan, sehingga blekok masih dapat tetap tinggal di habitatnya,” tandasnya.
Sebelumnya, pohon beringin di Alun-Alun Kota Blitar tumbang usai diterpa hujan deras dan angin kencang, Minggu (7/1) lalu. Akibatnya, 10 orang terluka dan dirawat di rumah sakit. Usai kejadian itu, paguyuban pedagang alun-alun menduga pohon tumbang juga dipicu proyek pembangunan gorong-gorong pada 2022 lalu. Dampak dari pembangunan itu diduga berakibat pada rusaknya struktur akar pohon.
Menanggapi hal itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Blitar memastikan bakal mengevaluasi ulang proyek tersebut. Dinas juga berencana mengkaji ulang proyek yang menelan anggaran Rp 1,2 miliar tersebut sebagai upaya perbaikan pada pembangunan proyek infrastruktur berikutnya.
“Pengkajian ulang gorong-gorong harus dibahas secara komprehensif, melibatkan pemerhati lingkungan dan masyarakat,” pungkas Kepala Dinas PUPR Kota Blitar, Suharyono. (luk/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila