Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Begini Suasana Pelaksanaan Imunisasi Sub PIN Polio di Kota Blitar yang Diikuti Anak-anak TK

M. Luki Azhari • Selasa, 16 Januari 2024 | 18:31 WIB
DEMI SEHAT: Tenaga kesehatan memasukkan cairan imunisasi polio ke mulut anak, senin (15/1).
DEMI SEHAT: Tenaga kesehatan memasukkan cairan imunisasi polio ke mulut anak, senin (15/1).

 

BLITAR - Rona mata sembab dan wajah memerah nyaris tidak muncul saat imunisasi Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio, Senin (15/1/2024). Ya, seringkali imunisasi dikaitkan dengan penggunaan jarum suntik sebagai media injeksi cairan ke tubuh. Namun, kali ini anak-anak yang duduk di bangku TK dan SD tampak lebih percaya diri.

Seperti yang tampak di sejumlah posyandu di Kecamatan Kepanjenkidul, para orang tua memilih menunggu di luar. Mimik wajah mereka tenang. Sementara kumpulan anak justru dengan santai siap menerima tiap tetes dosis vaksin.

Mereka duduk antre menunggu giliran tenaga kesehatan (nakes) memanggil. “Sudah, nunggu di sini saja. Tenang kalau tidak pakai jarum suntik. Sebagai orang tua kadang juga kasihan lihat anak nangis disuntik,” ujar Rianty, warga setempat, Senin (15/1/2024).

Perempuan 28 tahun ini mengaku sudah mendapat informasi terkait pelaksanaan imunisasi polio. Anaknya yang baru berusia 2 tahun otomatis termasuk salah satu dari belasan ribu anak lainnya yang menjadi target imunisasi.

Dia bersyukur lantaran pada imunisasi ini tidak memakai jarum suntik. Sehingga, anak lebih mudah dikondisikan. Terkadang injeksi pada anak memungkinkan orang tua turut terlibat, yakni memegang tubuh anak agar tidak berontak saat disuntik. Dengan metode tetes, anak tidak lagi rewel dan suasana lebih kondusif.

“Lebih kondusif karena tanpa jarum suntik. Biasanya yang terjadi kalau satu anak nangis akibat disuntik, yang lain juga ikutan nangis padahal belum disuntik,” paparnya.

Seorang bidan Puskesmas Kepanjenkidul, Miftakhul Rohmah mengatakan mengimunisasi sebanyak 49 anak di posyandu dan TK. Selama mengikuti kegiatan tersebut reaksi anak cenderung menyenangkan. Itu karena mereka tak harus merasakan sakitnya disuntik.

Sebagai nakes, perempuan 34 tahun ini mengakui pelaksanaan vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat ini lebih efisien dari sisi waktu.

“Memang kalau disuntik, kami pun harus menunggu anak benar-benar tenang. Pas dipegang orang tua juga harus sampai diam, tidak boleh bergerak,” papar warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan ini.

Hal serupa juga diungkapkan oleh bidan lainnya, Sri Asbudiarti. Sedari pukul 08.00 dia mendapat jatah untuk pelaksanaan imunisasi di titik sasaran berkumpul.

Salah satunya di TK dan RA. Menurutnya, imunisasi di sekolah akan lebih menghemat waktu.

“Cukup enak tadi, lebih runtut. Lucunya tadi ada anak yang ditanya vaksin rasanya bagaimana, jawabnya ada yang rasa stroberi, ada pula yang malah jawab rasa nasi goreng,” jelasnya.

Namun, ada sejumlah anak yang terpaksa tidak ikut imunisasi lantaran sakit. Ada pula anak yang absen lantaran baru saja mendapat vaksinasi measles dan rubella (MR). Untuk itu perlu menunggu jeda interval. (*/sub)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Sub PIN Polio #nakes #Kota Blitar #imunisasi anak