BLITAR – Dalam sepekan ke depan, ribuan anak di Kabupaten Blitar ditarget mendapat imunisasi polio yang dimulai pada Senin (15/1) kemarin. Dalam satu desa ditarget lebih dari 100 anak dilakukan imunisasi tiap hari. Namun ada beberapa orang tua enggan dilakukan imunisasi anaknya karena miliki prinsip tertentu.
Puluhan anak memadati aula Kantor Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, kemarin. Mereka mengikuti vaksinasi polio dengan didampingi orang tua masing-masing. Beberapa anak memang terlihat ketakutan, karena berfikir akan disuntik. Namun setelah dijelaskan oleh bidan, pemberian imunisasi ini dilakukan secara tetes untuk ditelan sang anak.
“Untuk sasarannya ada sekitar 130 anak di Desa Kuningan. Kemudian untuk lokasinya, ada yang di sekolah, di Kantor Desa dan posyandu lainnya,” terang salah seorang bidan, Rohma, saat ditemui di lokasi kemarin.
Menurut Rohma, vaksin polio diberikan kepada anak usia 0-7 tahun. Masing-masing mendapatkan dua tetes vaksin pada dosis putaran pertama. Sementara imunisasi polio akan dilakukan hingga putaran kedua. Yakni, pada 19 Februari 2024.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar dr Christine Indrawati menyebut ada 134.146 anak yang dilakukan imunisasi polio. Jumlah itu merupakan data riil yang didapat dari masing-masing puskesmas. Anak yang diundang untuk ikut imunisasi ini berusia 0–7 tahun.
“Syarat untuk mengikuti imunisasi polio ini, anak harus sehat. Sebab, bila ditemui gejala demam, flu dan sakit diare atau penyakit lain lebih baik ditunda lebih dulu dan menunggu imunisasi polio selanjutnya di puskesmas terdekat,” ujar Christine.
Pelaksanaan hari pertama imunisasi polio di bumi penataran, pimpinan dinkes Kabupaten Blitar melakukan monitoring disejumlah puskesmas. Christine sendiri mengaku memonitor imunisasi polio hari pertama ini di daerah timur, yakni di Posyandu yang berada di balai Desa Poh Gajih, Kecamatan Selorejo, dan kesamben.
“Sepanjang pengamatan kami tidak ada masalah. Namun ada beberapa orang tua yang menolak imunisasi polio, karena berpedoman pada petuah dari dokter spesialis anak untuk tidak melakukan imunisasi selain darinya. Ada juga yang menolak karena memiliki prinsip untuk tidak menggunakan bahan kimia,” ungkapnya.
Untuk diketahui, imunisasi dilakukan untuk pencegahan penyakit polio. karena penyakit itu menyebabkan kelumpuhan pada suatu kaki dan sifatnya permanen. Bahkan tidak bisa diobati karena menyerang saraf yang menggerakkan tungkai kaki. Sehingga penderita polio tidak bisa jalan dan tidak bisa diobati. (jar/dit)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila