BLITAR - Suara tempaan besi dan las terdengar di rumah milik Katiman, 70, dan Gunarjo, 45. Warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, ini menggeluti usaha pande besi warisan orang tua. Memiliki rumah berdampingan, keduanya memanfaatkan salah satu sudut di belakang rumah untuk memproduksi aneka kerajinan berbahan dasar besi itu.
“Kalau saya mulai memproduksi pande sejak tahun 1990-an. Meneruskan usaha bersama adik saya,” kata Katiman sambil menunjukkan rumah sang adik di sebelah rumahnya.
Katiman mengatakan, dulu di lingkungan Kelurahan Gedog banyak membuat kerajinan pande. Maka dijuluki sebagai Kampung Pande. Namun, sekarang hanya tersisa dia dan sang adik masih bertahan. Sebab, perkembangan zaman membuat banyak beralih pekerjaan.
Meski begitu, dia tetap bertahan untuk menjalankan bisnis orang tua. Dia dibantu dengan 2-3 orang memproduksi pande setiap hari. Hanya saja, tidak memproduksi banyak. Pasalnya, diusia tak lagi muda tenaga yang dimiliki tak lagi sama. “Kami dapat bantuan alat dari pemerintah. Tapi belum saya gunakan. Jadi masih manual,” bebernya.
Sementara Gunarjo mulai memproduksi pande sejak tahun 1997. Saat ini dia dibantu oleh 4 orang karyawan. Menurut dia, bahan baku mahal dan sulit dicari membuat eksistensi perajin pande meredup.
Bahan baku untuk membuat pande didatangkan dari luar daerah. Yakni, Gresik dan Tulungagung. Sementara, arang untuk proses pembakaran dipesan dari Jepara, Jawa Tengah.
Proses produksi mulai pukul 06.00 sampai 12.00. Dalam sehari bisa memproduksi sekitar 12 kerajinan pande. Untuk pengiriman ke Kalimantan rutin 100 buah dalam sebulan.
Tergantung dari pesanan atau barang habis di tengkulak. Terbanyak peminat adalah pacul. Sementara itu pesanan terbanyak dari luar pulau. Seperti, Lampung, Sumatera hingga Ambon. Sedangkan lokal terbanyak ke Malang.
Nantinya, pacul dan celurit itu akan dijual kembali para tengkulak. “Kalau lokalan itu sulit. Sawah semakin sempit ditambah banyak alat-alat canggih. Anak muda juga jarang yang mau jadi petani,” ujarnya.
Gunarjo mengatakan, kesulitan selama ini ada pada bagian pemasaran. Terutama masalah harga. Misalnya, bahan baku besi mahal, namun harga jual yang tidak ada perubahan. Sehingga, harus pandai mencari relasi yang berani menjual dengan harga tinggi.
Untuk itu, pande besi yang diproduksi juga dijual secara online melalui market place. Hal itu dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju. Pun jika hanya mengandalkan pembeli yang datang juga akan sulit.
Harga jual kerajinan pande berbeda-beda. Tergantung dari kualitas dihasilkan. Pacul dengan kualitas standar dipatok Rp 80-150 ribu. Paling bagus lagi Rp 150-250 ribu. Sedangkan celurit mulai Rp 30-100 ribu.
Biasanya, disesuaikan dengan dana yang dimiliki pembeli. Sebulan bisa meraup omzet kotor Rp 10-15 juta. “Pacul bisa tahan hingga 10 tahun. Kalau celurit hanya sekitar 6 bulan. Maka kalau hanya mengandalkan penjualan lokal sulit,” pungkasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila