BLITAR - Tidak banyak yang tahu, ternyata Kabupaten Blitar memiliki atlet bina ragawan berprestasi. Salah satunya adalah Akbar Nur Azmi, warga Desa Kawedusan Kecamatan Ponggok. Dia sudah 13 tahun menjadi atlet binaragawan, bahkan sudah beberapa kali ikut event di luar negeri.
Saat ini, Akbar, sedang melakukan pelatihan di Solo untuk mempersiapkan kompetisi. Namun di balik badannya yang besar dan kekar itu, ternyata terdapat perjuangan keras yang telah dilalui. Bahkan sejak 4 tahun yang lalu, dia telah dipercaya menjadi atlet Porprov untuk atlet Persatuan Binaraga Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Blitar.
“Saya sebelum menjadi atlet bina raga, pertama ikut silat saat SMP. Awalnya iseng dan diajak oleh teman untuk ikut fitnes, yang tujuannya untuk menjaga kekuatan silat. Saya tertarik fitness, juga karena saat itu untuk persiapan Porprov Jatim,” ujar Akbar, kemarin (18/1).
Beberapa kali ikut fitnes membuat Akbar senang melakukannya. Sebab, dia juga sempat menjadi atlet pada cabang olahraga lain, seperti lari, tenis meja, dan pencak silat. Baginya ada perbedaan cabang olahraga lain dengan binaraga, karena olahraga otot ini mengharuskannya bertarung melawan diri sendiri.
Hingga akhirnya Akbar memulai menjadi atlet bina raga ketika duduk di bangku perkuliahan. Dia mengikuti kompetisi bina raga pertama ketika 2011. Bahkan dia masih terus aktif mengikuti beberapa kompetisi.
“Sebenarnya tidak ada yang sulit, asalkan ada niat. Hal itu yang saya tanamkan ketika menjadi atlet. Semua itu belajar, terasa mudah bilat ahu caranya dan tetap terus belajar sampai sekarang. Karena atlet binaraga juga mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.
Akbar menceritakan prosesnya membentuk badan yang besarnya itu sejak 2008 silam. Namun tetap konsisten menjaga bentuk tubuhnya hingga saat ini. Sebab dia menerapkan latihan yang terprogam dan menjalani pola makan yang ketat.
Untuk saat ini Akbar berlatih memang cukup keras, karena untuk persiapan kompetisi. Dalam sehari, dia berlatih 4 hingga 5 kali, jadi pagi lebih melatih kardio, siang otot besar, sore otot kecil dan malam otot besar lagi. Dia menjelaskan, otot besar terdiri otot dada, bahu, punggung dan paha, Sedangkan untuk otot kecil yakni bisep, perut serta bisep.
Latihan otot besar dan kecil itu harus terpisah dan tidak bisa digabungkan. Namun sama-sama dilakukan dalam fitnes, yakni latihan angkat beban. Maka dari itu, semenjak menjadi atlet waktnya lebih banyak di ruat fitnes.
“Untuk makanan, bukan hanya mengontrol saja. Lebih mengganti makanan, karena konsumsi atlet berbeda dengan orang normal. Seperti tidak boleh makan gorengan, santan, gula, dan garam. Jadi lebih ke kukus dan bakar,” terang Akbar.
Dalam kompetisi binaraga yang dinilai semua otot yang simetris. Sehingga tidak hanya besar pada salah satu otot, semua otot dinilai oleh juri. Paling banyak dinilai pada paha, karena latihannya lebih sulit untuk membentuknya. Maka dari itu, Akbar bersemangat untuk terus berlatih, meski tidak muda lagi.
Terbukti, Akbar baru saja mendapat juara 3 dunia dalam kompetisi yang diadakan di Korea Selatan pada Desember 2023 lalu. Dalam semua kompetisi, dia mengganggap lawannya merupakan musuh yang berat. Apalagi binaragawan musuh terberatnya merupakan dirinya sendiri. Kejuaraan itu, kompetisi keduanya di luar negeri dan syukurnya membawa prestasi untuk tanah air. Sebelumnya, dia juga telah menyabet medali emas di Singapore pada kompetisi persahabatan dan sudah sering ikut kompetisi nasional.
“Ke depannya, saya akan ikut event di Laos, Asia Tenggara pada Mei 2024. Nanti November ada kejuaraan dunia lagi di Maldives. Semua kompetisi itu sudah persiapan sampai sekarang. Bahkan lomba tidak lomba, porsi latihannya tetap ketat dan keras,” pungkasnya. (*)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila