BLITAR-Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, menjadi sentra kerajinan pande besi. Bahkan dijuluki Kampung Pande dan hingga kini masih eksis. Sejumlah produk berhasil dijual hingga luar daerah.
Kerajinan pande masih banyak diminati di era perkembangan teknologi yang semakin maju. Utamanya bagi para petani yang masih memanfaatkan peralatan tradisional. Tak tanggung-tanggung, hampir setiap bulan rutin mengirim ratusan cangkul dan celurit ke luar Jawa.
Di antaranya seperti Sumatera, Lampung, Kalimantan, dan Ambon. Sementara untuk lokal, yakni Malang. “Kiriman paling rutin ke Kalimantan. Masing-masing 100 cangkul dan celurit,” kata salah satu perajin pande besi, Gunarjo.
Pria 45 tahun ini menambahkan, bahan baku pembuatan pande besi didatangkan langsung dari luar kota. Besi dipesan dari Tulungagung dan Gresik, sedangkan arang untuk pembakaran dari Jepara, Jawa Tengah. Kayu pembakaran yang digunakan berasal dari pohon jati.
Jika hanya mengandalkan bahan baku lokal, kata Gunarjo, akan sulit untuk mendapat keuntungan. Sebab, harganya tergolong mahal karena persaingan dengan perajin pande besi lain. Sementara di luar kota bisa mendapat harga yang lebih miring.
Begitu juga dengan penjualan, dia mengandalkan pemasaran secara online melalui marketplace. Hal itu dilakukan agar penjualan terus berjalan. Sebab, terlalu sulit jika hanya mengandalkan pembeli yang datang. “Kalau lokal itu sulit. Apalagi, sawah semakin berkurang. Sementara cangkul bisa tahan sampai 10 tahun,” jelasnya.
Puluhan tahun menekuni pande besi, kini pembuatan pande semakin mudah. Sebab, dia memanfaatkan mesin untuk membuatnya. Hal itu tentu bisa mempersingkat waktu pembuatan. Selain itu, ketebalan besi untuk pacul juga berkurang. “Dulu ketebalan bisa sampai 3 sentimeter (cm). Tapi sekarang 1,5 atau 2 cm. Sebab bahan baku sekarang cukup sulit, tapi tetap pertahankan kualitas,” tandasnya. (ink/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila