BLITAR-Tuntutan ekonomi membuat masyarakat dituntut kreatif mencari rupiah. Belakangan, bisnis ayam warni-warni banyak diminati.
Salah satu yang menjajal bisnis ayam warna-warni yakni Siswanto. Warga Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan ini mengaku hampir dua tahun menjual ayam warna-warni. Bisnis ini dimulai lantaran hobi sang anak membeli ayam lucu itu.
“Paling sering jualan kalau ada acara atau tontonan saja. Kalau mangkal cuma pada Minggu,” katanya ketika ditemui di Jalan Delima, Kelurahan Tlumpu.
Dia menjelaskan, proses pewarnaan ayam warna-warni sangat sederhana. Ayam yang digunakan anak ayam jenis pejantan untuk diwarnai. Usianya 3-7 hari setelah menetas. Karena itu, harus dirawat dengan hati-hati.
Sebelumnya, anak ayam itu harus dikumpulkan terlebih dulu di sebuah ember plastik besar. ’’Satu kali pewarnaan bisa 50 ekor,” imbuhnya.
Setelah itu, mencampur pewarna tekstil dengan air dan diaduk hingga rata. Sementara untuk warnanya, dia biasa menggunakan lima warna berbeda. Yakni, merah muda, oranye, hijau, biru, dan kuning.
Setelah siap, barulah anak ayam itu diwarnai. Caranya, dilakukan dengan mengusapkan kuas pada bulu anak ayam yang sudah diletakkan di dalam ember. Proses pengecatan dilakukan secara manual dan harus hati-hati.
“Sekilas mungkin terlihat mudah. Tapi butuh kecermatan. Kalau terlalu pelan warnanya bisa tidak merata, tapi kalau terlalu cepat ayamnya bisa mati. Intinya ya harus telaten,” jelasnya.
Setelah diwarna, anak ayam akan terlihat basah dan kurang menarik. Namun, setelah bulu-bulunya kering akan terlihat lucu karena bentuknya yang bulat dan berwarna. Ayam dijemur sekira 1,5 jam hingga kering.
“Ayam warna-warni dijual Rp 4 ribu per ekor, atau Rp 10 ribu dapat 3 ekor. Kalau sama wadahnya Rp 10 ribu dapat 2,” tandasnya. (ink/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila