Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Ahmad Nur Wachid, Pemuda asal Kademangan Blitar yang Sukses Ternak Kelinci Hias Sampai Jadi Jujukan Pembeli di Jawa Timur

M. Luki Azhari • Selasa, 23 Januari 2024 | 17:07 WIB
BERBUAH MANIS: Ahmad Nur Wachid dan Seekor kelinci hias jenis anggora miliknya.
BERBUAH MANIS: Ahmad Nur Wachid dan Seekor kelinci hias jenis anggora miliknya.

 

BLITAR - Sudah hampir 6 tahun Ahmad Nur Wachid fokus menekuni budi daya kelinci hias. Sempat kurang mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, dia tak gentar. Kelinci hias miliknya jadi jujukan pembeli di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Lokasi kandang kelinci milik Wachid memang tidak di halaman ataupun di belakang rumah. Letaknya justru di dekat area dia biasa memproduksi batu bata, di tengah pekarangan miliknya sendiri. Untuk menujunya, harus mengendarai motor atau berjalan kaki menyusuri jalan makadam.

Dari rumah Wachid, jaraknya sekira 250 meter. Kandang susun yang terbuat dari kayu itu jadi naungan puluhan ekor kelinci. Bukannya kelinci biasa, pria warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar ini ternyata menjadi pembudi daya kelinci hias.

Secara fisik tentu sedikit berbeda dari kelinci pada umumnya. Bulu lebat, corak warna, dan tubuh mungil jadi keunggulan kelinci hias. Kendati perawatannya tak sama dengan jenis pedaging, kelinci hias lebih memiliki keunggulan dari sisi penjualan.

Sukses berbisnis kelinci hias hingga meraup rata-rata omzet lebih dari Rp 6 juta tiap bulan, itu tidak dilaluinya dengan mudah. Ada pengalaman pahit yang dialami ketika di awal merintis usaha. Dia masih ingat kala dipandang sebelah mata.

Sebagian orang yang dia ingat pernah mengungkapkan bahwa usaha kelinci yang dia jalani bakal sulit berbuah manis.

”Sebagian orang terdekat saya saat itu tidak mendukung. Saya disuruh ternak kambing atau sapi. Pokoknya kalau kelinci kesannya tidak ada hasilnya,” ungkapnya.

Kurangnya dukungan juga didapat pria 35 tahun ini saat meminta bimbingan kepada seorang rekannya. Wachid saat itu ingin diajari seluk-beluk mengelola kelinci hias. Sayangnya, respons rekannya jauh dari ekspektasi. Teman Wachid mengaku bahwa budi daya kelinci hias rumit, mudah mati, dan tak cocok untuk model bisnis jangka panjang.

Merasa tak puas, Wachid memberanikan diri untuk menjalankan budi daya kelinci hias di pengujung 2018. Ada sebanyak 11 ekor kelinci dari berbagai jenis. Dari situlah perjalanan Wachid dimulai.

Dalam periode tertentu, dia rutin melakukan breeding alias kawin silang untuk menghasilkan anakan berkualitas mumpuni. Baginya itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan.

“Saya breeding dengan full rumput agar bisa berkembang. Dari anakan saya pilih lokal, rex, angora. Hasilnya kok cepat jenis anggora. Lalu saya coba naikan harganya, kok tetap laku? Dari situ mulai tertarik di dunia kelinci hias,” tuturnya.

Usaha ini semula dilakoni iseng-iseng saja. Anak kelima dari enam bersaudara ini awalnya mengandalkan pembuatan bata untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Hawa segar pun dia rasakan ketika usaha jual kelinci hias itu semakin diminati konsumen se-Karesidenan Kediri bahkan lingkup Jawa Timur.

Setiap hari, lanjut dia, rata-rata selalu ada orang yang membeli kelinci miliknya. Maklum saja, itu karena Wachid menjadi pembudi daya kelinci hias dengan jenis paling banyak, melebihi lima jenis berbeda-beda.

Dari puluhan induk kelinci, dia memiliki enam jenis antara lain Holand lop, Inggris anggora, lion head, dutch, rex, dan New Zealand.

“Harganya memang bervariasi. Contoh kelinci rex, di pasaran saya jual sapihan Rp 100 ribu sepasang. Kalau kelinci rex harga induk Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu per ekor. Dan, beda harga juga dengan jenis lainnya,” tuturnya.

Di tengah peminat kelinci hias yang tak setinggi kelinci pedaging, dia bersyukur dengan kecanggihan teknologi yang ada. Terbentuknya komunitas di media sosial (medsos) memudahkan transaksi kelinci hias. Sebab, segmentasi peminat kelinci hias untuk dipelihara sendiri atau untuk kontes, mudah terbentuk.

“Kalau kelinci hias, 80 persen cari ke saya. Karena setahu saya tidak ada peternak kelinci hias sebanyak jenis ini. Setahu saya belum ada,” bebernya.

Dia menyadari, permintaan yang tinggi mesti diimbangi dengan jaminan kualitas dan mutu kelinci. Menjaga kelinci hias dalam kondisi sehat sampai di tangan pembeli adalah prioritasnya. Selain memberikan pakan sehat, dia juga menjauhkan kelinci dari suasana bising untuk mengantisipasi stres.

Wachid berharap, usahanya tersebut terus berkembang. Dia juga berupaya meningkatkan kualitas anakan hasil breeding kelinci hias, sehingga dapat mengikuti permintaan pasar.

“Kita harus terus menyesuaikan dengan permintaan pasar. Sampai saat ini saya terus memiliki motivasi untuk menekuni usaha ini,” tandas pria yang juga rutin turut serta dalam kontes kelinci hias itu. (*/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#kademangan blitar #Kabupaten Blitar #kelinci hias #Perkembangbiakan