Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jumlah Warga Terdampak Krisis Air di Blitar Berkurang, BPBD Tetap Dropping Air Bersih karena Sumur Belum Terisi

M. Luki Azhari • Rabu, 24 Januari 2024 | 17:23 WIB
MANFAATKAN BANTUAN: Seorang warga di Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, mengambil air bersih hasil dropping BPBD selasa (23/1).
MANFAATKAN BANTUAN: Seorang warga di Lingkungan Jatimalang, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, mengambil air bersih hasil dropping BPBD selasa (23/1).

 

BLITAR - Jumlah warga terdampak krisis air telah menyusut. Dari 1.500 jiwa, kini berkurang menjadi sekitar 900 jiwa.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Blitar Agus Suherli mengatakan, analisis BPBD itu merujuk pada kondisi di lapangan. Indikasinya, serapan pemanfaatan air tidak lagi tinggi seperti saat puncak laporan kekeringan. Akumulasi dropping air bersih menurun sejak lima hari terakhir.

“Kami menelaah, menganalisis melalui berbagai kondisi di lokasi. Walaupun berdasarkan pengamatan kami sudah berkurang, tapi sampai sekarang (kemarin, Red) masih kami dropping,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Selasa (23/1).

Kekeringan di Kota Blitar sejatinya mulai berlangsung sejak Oktober tahun lalu. Sebagian warga yang terdampak menilai bahwa krisis air tahun ini cukup parah dibanding tahun-tahun lalu. Pada Sabtu (13/1) lalu, jumlah warga yang mengalami krisis air sebanyak 1.508 jiwa dari 405 kepala keluarga (KK), yang tersebar di 6 kelurahan dan 3 kecamatan.

Rata-rata distribusi air mencapai 47 ribu liter dalam sehari. Jumlah itu kini berangsur-angsur menurun. Pada Senin (22/1) lalu, jumlah warga terdampak menjadi 914 jiwa dari 249 KK. Indikasi penurunan dampak kekeringan itu merata di tiga kecamatan.

Jumlah dropping air berkurang menjadi 20 ribu liter per hari. Dua kelurahan yang saat ini mendapat pemantauan lantaran berpotensi mengalami kekeringan yakni Kelurahan Tlumpu dan Kelurahan Kauman.

Agus menyebut, pembiayaan penanganan bencana kekeringan ini menggunakan anggaran dari belanja tidak terduga (BTT). “Walaupun tidak separah sebelumnya, tapi ini masih terjadi di seluruh kecamatan. Artinya ya masih terjadi bencana ini. Hujan kemarin turut membawa dampak,” terangnya.

Dia menilai, hujan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir turut memengaruhi cadangan air di tanah. Kondisi ini disinyalir membantu meringankan dampak kekeringan. “Namun, sumur belum sepenuhnya terisi. Maka kami masih terus distribusikan air bersih di tandon-tandon yang kemarin sudah kami tempatkan,” sambungnya.

Seorang warga Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Ririn mengungkapkan bahwa sudah ada tanda-tanda air di sumur muncul. Tanah di rongga sumur, kata dia, mulai basah. “Tapi belum sampai terisi. Mungkin daerah lain sudah,” jelas perempuan 30 tahun ini.

Penyaluran air bersih masih perlu dilakukan untuk membantu keperluan masyarakat sehari-hari, utamanya untuk dikonsumsi. “Dropping masih ada. Petugas-petugas mengisi setiap pagi dan sore. Ini harus tetap dilakukan selama krisis air belum reda,” tandasnya. (luk/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#bpbd #krisis air #btt #Kota Blitar #dropping air bersih