BLITAR - Program pembinaan atlet di internal Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kota Blitar tahun ini dipastikan tak optimal. Penyebabnya, induk cabor kesulitan mengakses fasilitas latihan yang representatif.
Ketua Pobsi Kota Blitar Hari Cahyono mengatakan, selama ini anak asuhnya berlatih di markas yang berlokasi di Jalan Kengean, Kelurahan/Kecamatan Sananwetan. Kondisi di fasilitas latihan yang dimaksud memang belum bisa dibilang representatif.
“Memang sudah ada bantuan meja biliar dari pemkot. Sekarang ada dua meja. Tapi, kalau dari segi tempat memang kurang representatif untuk berlatih,” akunya, Rabu (24/1).
Tak adanya rumah biliar yang sesuai standar di wilayah Kota Patria juga jadi soal. Buntutnya, para atlet harus berlatih seadanya dengan fasilitas yang ada.
Perlu diketahui, ada standar khusus yang mengatur teknis-teknis pada pertandingan biliar di kejuaraan.
“Sedangkan selama ini belum ada rumah biliar yang sesuai standar di Blitar. Misal, bola yang terlalu kecil, dimensi meja tidak sesuai aturan, hingga spesifikasi stik juga belum sesuai. Sedangkan dalam kejuaraan selalu diterapkan standar. Nah, ini yang juga jadi kendala,” bebernya.
Disinggung soal anggaran pembinaan, dia mengaku bahwa tahun ini induk cabor dikucuri dana sekitar Rp 45 juta. Hari menilai jumlah itu terbilang seret untuk ukuran cabor biliar.
Alasannya, tahun ini ada banyak agenda kejuaraan luar daerah yang akan diikuti oleh Pobsi Kota Blitar.
“Lalu untuk satu kali berangkat ke event, setidaknya kami butuh sekitar Rp 10 juta. Di tahun lalu saja ada sekitar lima event yang kami ikuti. Berarti memang sangat terbatas,” sambungnya.
Keterbatasan ini membuat Pobsi mencoret gelaran kejuaraan tingkat regional dari kalender pembinaan. Dengan begitu, fokus cabor di tahun ini adalah untuk menggelar pembinaan di internal saja.
“Sebenarnya tahun ini diagendakan ada event tingkat Blitar Raya. Tapi, sulit rasanya untuk direalisasikan, apalagi tanpa adanya sponsor.
Sebab, harus sewa gedung, menyediakan 6-7 buah meja, dan operasional. Tahun ini kami realistis saja,” tegasnya. (dit/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila