BLITAR - Rumah yang terletak di tengah sawah dan jauh dari permukiman penduduk itu tidak hanya sekadar hunian Aris Siyam Wijayanto. Sebaliknya, di tempat ini pria paro baya tersebut menyulap kendaraan “rosok” menjadi kendaraan baru.
Di rumah yang bercat putih ini terparkir berbagai jenis kendaraan yang belum sempat ia sentuh sejak dibeli. Belasan kendaraan klasik berjubel mengisi garasi rumah tersebut.
Ternyata menyulap kendaraan klasik ini tidak mudah. Membutuhkan relasi dan komunikasi agar bisa menemukan kendaraan onderdil yang dibutuhkan.
“Koneksi itu penting banget. Kalau tidak memiliki koneksi susah dapat kendaraan atau onderdil. Bahkan jika tidak dapat onderdil, biasanya kami mencari hingga ke luar negeri,” ucap Aris.
Saat ini, warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, ini fokus dengan kendaraan lawas tahun 1950. Alasannya karena memiliki karakter yang khas.
Yakni, bodi mini dengan dimensi mungil dan bermesin kurang dari 500 cc. Selain itu, kendaraan jenis ini juga cukup langka sehingga membuat Aris kepincut untuk merestorasinya.
Sayangnya, tidak semua kendaraan jenis ini dapat ia restorasi. Ada beberapa ciri khusus yang selalu ia perhatikan. Mulai dari rangka, bodi, dan kelengkapan onderdil mobil, hingga surat-surat kendaraan.
“Kalau surat-surat itu paling penting. Kalau ada yang menjual ke saya dan tidak ada surat, maka tidak akan saya terima,” ungkapnya.
Aris mengaku bahwa yang paling harus didahulukan itu onderdil kendaraannya. Maklum saja, ada banyak kolektor lain yang juga berburu barang tersebut. Artinya, restorasi akan dilakukan setelah semua komponen terkumpul.
“Onderdil itu carinya sulit dan saingannya banyak. Jika tidak segera dibeli, bisa jadi keduluan dan harganya akan naik. Namun dengan mencari dulu dan membangun kemudian, itu akan mempermudah dan menghemat biaya,” ujarnya.
Baca Juga: Cerita Larasati, Wanita Asal Blitar yang Sukses Bisnis Kecantikan dengan Pengetahuan Beauty Terapis
Sebagai pencinta otomotif, ada beberapa hal yang membuatnya kecanduan. Yakni, seni atau persaingan dalam mencari onderdil kendaraan.
Menurutnya dalam dalam proses pencarian onderdil terbilang seru. Perlu ada kemampuan dalam negosisasi, persaingan, dan kecepatan ketika bersaing dengan kolektor lain.
Aris menargetkan proses restorasi rampung dalam tiga bulan. Namun, jika ingin maksimal dalam pembuatan kendaraan mobil setidaknya membutuhkan waktu enam bulan pengerjaan.
“Untuk kelengkapanya itu belum tentu bisa semuanya. Harus tetap mencari lagi. Makanya kami selalu mencari dan membeli spare part dulu sebelum kendaraan terbangun. Kalau gak gitu, nanti bisa keduluan sama orang lain. Kalau sudah begitu biasanya harga akan melesat tajam,” ulangnya.
Jika semua bahan sudah ada, aktivitas merakit hingga finishing dilakukan di bengkel rumahnya. Meski produk restorasi, nilai ekonomis kendaraan lawas ini tidak murah. Satu unit kendaraan antik karya Aris setidaknya hanya dilepas di angka Rp 100 juta . (*/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila