Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Memanfaatkan Peluang saat Pandemi, Pristy Ani Asmara dan Slamet Susanto Kompak Bikin Aneka Kerajinan Bambu Hingga Dipasarkan Luar Daerah

Mila Inka Dewi • Jumat, 26 Januari 2024 | 22:32 WIB

 

UNIK: Pristy menunjukkan beberapa koleksi kerajinan bambu produksinya bersama suami.
UNIK: Pristy menunjukkan beberapa koleksi kerajinan bambu produksinya bersama suami.

BLITAR - Pandemi Covid-19 lalu membuat Pristy Ani Asmara dan Slamet Santoso memanfaatkan peluang yang ada. Yakni, membuat aneka kerajinan dari bambu yang berhasil mendulang cuan.

Adanya pandemi Korona membuat sejumlah pekerjaan sempat terhenti. Seperti yang dialami oleh Pristy Ani Asmara dan Slamet Susanto.

Tak berpangku tangan, pasutri tersebut lantas putar otak agar tetap bisa menghasilkan uang dengan modal yang sedikit.

Awalnya, pasutri ini fokus menggeluti kerajinan lampu hias dari pipa paralon. Namun, kini beralih mengolah bambu atas sejumlah masukan saudara. Selain itu, bambu mudah didapatkan dan ramah lingkungan.

"Waktu itu saya berkunjung ke rumah saudara di Surabaya. Nah, mereka banyak yang menyarankan untuk membuat kerajinan dari bambu. Kemudian kita coba dan berlanjut sampai sekarang," katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Kamis (25/1).

Adapun produk kerajinan yang berhasil dibuat seperti nampan bambu, gelas, asbak, hingga stand holder HP. Kerajinan yang dibuat masih benda pakai sederhana. Sebab, semua dibuat secara manual tanpa mesin.

Pristy mengatakan bahwa yang paling banyak diminati adalah nampan bambu. Biasanya nampan bambu digunakan sebagai hamper atau parsel. Ukuran nampan dibuat bervariasi tergantung dari pesanan.

"Konsumen maunya ukuran seperti apa. Misalnya yang pas untuk empat toples. Ada juga yang besar untuk tempat minum," jelas ibu dua anak ini.

Semua kerajinan full menggunakan bambu. Bahan baku bambu selama ini dibeli dari sejumlah pemasok. Tak jarang juga memanfaatkan bambu bekas bangunan yang masih layak diolah. Kebetulan, sang suami bekerja sebagai tukang bangunan.

Sayangnya, ketika Jawa Pos Radar Blitar berkunjung ke rumahnya di Jalan Pinus, Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul, Pristy sedang tidak memproduksi. Sebab, masih vakum untuk sementara lantaran sang suami masih mendapat pekerjaan di luar kota. Selain itu, modal untuk memulai produksi kembali juga masih minim.

Kendala lainnya adalah dalam pemasaran. Sebab, selama ini hanya dipasarkan sendiri melalui status WhatsApp atau marketplace. Biasanya, dia banyak menerima pesanan dari pedagang hamper atau parsel. Selain itu, juga ke luar kota seperti Malang dan Surabaya.

"Yang di Surabaya itu mereka pesan cangkir bambu. Tapi yang kasaran atau belum dipelitur. Katanya dibuat untuk kerajinan ecoprint," ujar perempuan berkacamata ini.

Pristy membeberkan, produk kerajinan bambu itu sempat akan memasuki pangsa pasar luar negeri. Yakni, Turki untuk displai. Namun, lagi-lagi pandemi menjadi penghalang.

Padahal, dia dan suami sudah melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan. Seperti nomor izin berusaha (NIB), surat izin usaha perdagangan (SIUP), dan dokumen pendukung lain. "Kebetulan juga yang membantu kami mengurus perizinan itu meninggal karena Covid-19. Akhirnya tidak ada yang meneruskan sampai sekarang," bebernya.

Meski begitu, Pristy mengaku masih memiliki keinginan untuk meneruskan usaha itu karena memiliki potensi yang menjanjikan. Namun, ibu dua anak ini belum dapat memastikan kapan rencana itu bisa diwujudkan.

"Rencana ke depan tetap ada. Tapi memang masih terkendala modal dan tenaga. Karena memang bapak sendiri yang membuat. Saya hanya membantu sedikit dan pemasarannya," tandasnya. (*/c1/sub)

Editor : Luqman Hakim
#bambu #kerajian