Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Trik Perawatan Kelinci Hias, Cegah Stres, Jauhkan si Imut Kesayangan dari Kebisingan

M. Luki Azhari • Senin, 29 Januari 2024 | 20:43 WIB
MUNGIL: Kelinci panda, salah satu jenis yang diminati pencinta kelinci hias.
MUNGIL: Kelinci panda, salah satu jenis yang diminati pencinta kelinci hias.

 

BLITAR - Meskipun kuantitasnya tidak besar, peminat kelinci hias di Blitar tetap stabil. Kelinci jenis ini biasanya tak sekadar dipelihara menjadi hewan kesayangan, tapi juga untuk terjun dalam berbagai kontes.

Memastikan kelinci tidak stres perlu dilakukan agar hewan mungil ini sehat secara mental.

Di balik wujudnya yang menggemaskan, kelinci hias jenis anggora, rex, dutch, holland lop, lion head, hingga New Zealand ternyata perlu penanganan ekstra.

Utamanya menjauhkan keberadaan hewan jinak ini dari suasana bising. Metode ini supaya hewan tetap lincah dan produktif.

Peternak kelinci hias warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Ahmad Nur Wachid menilai, kelinci termasuk hewan yang rentan stres.

Ketika berdekatan dengan pusat aktivitas yang tinggi serta suara riuh, hewan ini menunjukkan reaksi tidak nyaman. Apabila dibiarkan, maka berdampak negatif pada siklus musim kawin.

“Pengalaman saya, kelinci sensitif dengan hal-hal baru, seperti suara yang mengejutkan. Pemilihan lokasi kandang harus dipertimbangkan,” ujarnya kemarin (26/1).

Pria 35 tahun ini menuturkan, menempatkan kelinci di kandang belakang rumah bukan menjadi persoalan. Asalkan suasananya lingkungan tenang.

Namun, jika dirasa kelinci tidak nyaman, segera pilih lokasi kandang yang mendukung.

Wachid, sapaan akrabnya, mengaku menempatkan kandang yang dihuni puluhan ekor kelinci miliknya di pekarangan dekat rumahnya. Kendati kandangnya sederhana, tapi situasi sekitar mendukung habitat kelinci.

PASTIKAN SEHAT: Ahmad Nur Wachid mengamati beberapa ekor kelici hias miliknya untuk memastikan kondisinya sehat.
PASTIKAN SEHAT: Ahmad Nur Wachid mengamati beberapa ekor kelici hias miliknya untuk memastikan kondisinya sehat.

Baca Juga: Cara Jeng Arum Maknai Seni Tari, Sebagai Bentuk Kontrol Diri

“Karena kalau stres bisa menghambat siklus kelinci dalam berkembang biak. Padahal, sebagai peternak atau pemelihara, tentu ingin jumlahnya bertambah,” katanya.

Ada sejumlah indikasi hewan bernama ilmiah Oryctolagus ini mengalami kecemasan. Antara lain, sering bersembunyi, nafsu makan menurun, tidak tenang, mengalami sembelit, dan lebih agresif dari biasanya. Dalam kondisi ini, kelinci betina juga akan kesulitan untuk mengikuti masa kawin.

Rata-rata dalam setahun, siklus kelinci berkembang biak atau melahirkan sekira 5-6 kali dengan anak yang dihasilkan bisa mencapai 25 ekor anakan.

Oleh karenanya, apabila pemilik kelinci hias ingin hewan bertelinga panjang ini produktif, maka harus bersiap sebelum memelihara.

“Sebenarnya mudah merawatnya. Hanya perlu telaten saja. Pun kalau hasil anaknya banyak, bisa menambah pemasukan bagi pemilik yang ingin menjual.

” tutur pria yang sudah bisnis kelinci hias selama 6 tahun ini.

Perawatan sederhana kelinci ini dapat dilihat dari pemberian makanan. Kelinci cukup diberi rumput sehat dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore.

Bisa juga diberi tambahan pelet pakan ayam untuk menambah nutrisi. Selain itu, pemotongan bulu pada kelinci jenis tertentu perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan bulu.

“Kalau ada sayuran apa pun bisa diberikan. Karena manfaatnya baik untuk bulu. Apalagi bagi lion head dan anggora, bulu yang indah jadi indikator penilaian dalam kontes,” tandasnya. (luk/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#perawatan #Kabupaten Blitar #blitar #kelinci hias