Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Keterlibatan Pemilih Disabilitas di Simulasi Pemungutan Suara Pemilu 2024, Pertama Kali Terlibat, Berharap ada Surat Suara Khusus Tuna Netra

Mila Inka Dewi • Selasa, 30 Januari 2024 | 17:31 WIB
TERTIB: Samsuri didampingi oleh pendamping ketika mengikuti simulasi pemungutan suara di Gedung Kesenian Aryo Kota Blitar, senin (29/1).
TERTIB: Samsuri didampingi oleh pendamping ketika mengikuti simulasi pemungutan suara di Gedung Kesenian Aryo Kota Blitar, senin (29/1).

 

 

BLITAR - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Blitar menyulap Gedung Kesenian Aryo di Jalan Kenari, Kota Blitar untuk tempat simulasi pemungutan suara pemilu 2024, Senin (29/1).

Simulasi itu melibatkan kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) TPS 12 Kecamatan Sananwetan.

Pantauan Jawa Pos Radar Blitar, simulasi berjalan lancar. Para petugas KPPS melakukan simulasi pemungutan sesuai dengan arahan dari KPU.

TPS tersebut diberi garis pembatas agar pelaksanaan simulasi berjalan tertib layaknya pemilu sungguhan.

Terlihat dua penyandang disabilitas memasuki TPS dengan dituntun seorang pendamping. Mereka terdiri dari penyandang tuna netra dan disabilitas fisik.

Untuk disabilitas netra dibantu oleh pendamping yang telah disiapkan. Sementara penyandang disabilitas fisik melakukan simulasi secara mandiri tanpa bantuan pendamping.

Penyandang tuna netra, Samsuri mengatakan, simulasi pemilu ini menjadi pengalaman pertamanya. Warga Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul ini mendapat undangan dari KPU Kota Blitar untuk terlibat dalam simulasi.

“Jujur saja ini pengalaman pertama saya dilibatkan dalam simulasi pemilu. Selama ini belum pernah,” katanya usai mengikuti tahapan simulasi, kemarin.

Menurut dia, simulasi tersebut menjadikannya sangat terbantu. Utamanya untuk persiapan pencoblosan pada 14 Februari nanti. Selama mengikuti simulasi, dia dibantu oleh pendamping yang telah disediakan.

Selama ini, Samsuri menyalurkan hak suaranya tanpa mengikuti simulasi. Sehingga, ketika pemungutan suara berlangsung, dia hanya mengikuti arahan dari pendamping. Dengan adanya simulasi tersebut, dia semakin merasa siap.

Baca Juga: KPU Kabupaten Blitar Optimistis Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilu Meningkat

Menurut pria 40 tahun ini, pemerintah kini mulai tergerak untuk memperhatikan kaum disabilitas dalam rangka menyukseskan Pemilu 2024. Kemudian memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk turut simulasi.

“Semoga saja ada tindak lanjut dari pemerintah. Misalnya, memberikan simbol khusus di surat suara untuk memperjelas teman-teman tuna netra lainnya,” jelasnya.

Simbol khusus yang dimaksud Samsuri adalah fasilitasi surat suara khusus bagi penyandang tuna netra. Misalnya penggunaan huruf Braille pada surat suara.

“Kami ingin nanti bisa mencoblos sendiri tanda harus ada pendamping,” harapnya.

Selama mengikuti simulasi, kata Samsuri, pelayanan KPPS maupun pendamping cukup baik. Mereka memberikan arahan yang mudah diterima sehingga memiliki gambaran untuk pelaksanaan pemilu nanti.

“Untuk pemilu nanti, rencananya bawa pendamping dari keluarga,” sambungnya.

Ketua KPU Kota Blitar Choirul Umam mengatakan, simulasi tersebut merupakan simulasi kedua. Pada simulasi pertama KPU hanya melibatkan pihak internal.

Seperti panitia pemungutan kecamatan (PPK) dan panitia pemungutan suara (PPS). Sementara simulasi kedua mengundang beberapa pemilih untuk dilibatkan.

“Kami mengundang, baik petugas KPPS maupun pemilih yang riil dari masyarakat,” katanya.

Adapun tujuannya, sambung Umam, agar mereka bisa mengetahui lebih awal proses pemungutan dan perhitungan surat suara sebelum pemilu yang sesungguhnya pada Februari nanti. Simulasi ini sebagai penyempurna simulasi sebelumnya.

Proses simulasi dimulai dari petugas KPPS yang melakukan pengecekan surat suara dan kotak suara. Hal itu untuk memastikan semua masih dalam kondisi tersegel dan utuh.

Kemudian, pemilih yang datang menunjukkan identitas pada petugas KPPS 1 dan 2 untuk didata. Selanjutnya, pemilih memasuki bilik suara untuk melakukan proses pencoblosan.

Setelah selesai, surat suara dimasukkan dalam kotak suara sesuai dengan jenisnya. Terakhir, pemilih memasukkan jari pada tinta sebagai bukti bahwa telah mencoblos.

Menurut dia, semua badan adhoc harus terlibat dalam proses pemilu nanti. Utamanya pada penggunaan aplikasi Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap).

Selain itu, 14 hari kedepan mereka harus memberikan informasi atau sosialisasi proses pemungutan dan perhitungan surat suara.

Dia menambahkan, simulasi ini menjadi yang terakhir dilakukan untuk tingkat Kota Blitar. Namun, untuk tingkat PPK, PPS, KPPS masih akan berlangung. Sekaligus sejumlah bimbingan teknis (bimtek) kecil yang dilakukan oleh beberapa KPPS.

“Dua hari lalu Kecamatan Kepanjenkidul sudah melakukan simulasi. Kemungkinan nanti bisa dilanjut dengan Kecamatan Sananwetan dan Sukorejo,” tandasnya.

Berdasarkan data KPU Kota Blitar terdapat 1.200 calon pemilih penyandang disabilitas. 420 di antaranya penyandang disabilitas mental dan 83 tuna netra.

Ketika proses pemungutan suara mereka akan didampingi oleh petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) maupun pihak keluarga.

“Pendampingnya bisa dari TKSK atau keluarga. Jika tidak ada, bisa didampingi dari petugas KPPS,”

pungkas Komisioner KPU Kota Blitar, Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan SDM, Rangga Bisma Aditya. (*/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#KPU Kota Blitar #pemilih disabilitas #surat suara #Pemilu 2024