Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Peringati Harlah NU, Ini dia Tiga Tokoh Inisiator NU di Blitar Raya

Fajar Ali Wardana • Rabu, 31 Januari 2024 | 18:24 WIB
Tiga tokoh inisiator NU
Tiga tokoh inisiator NU

BLITAR-Masyarakat Blitar Raya mengenal Nahdlatul Ulama (NU) sekitar 73 tahun lalu. Kala itu, ada tiga tokoh yang menginisiasi pendirian organisasi kemasyarakatan (ormas) tersebut di Blitar Raya.

Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, Arif Muzayyin mengaku telah meneliti terkait sejarah pendiri NU. Berdasarkan penelitiannya, pendirian NU Cabang Blitar dilakukan pada 1951.

Terbentuknya NU Blitar diinisiasi tiga tokoh dan restu para kyai sepuh Blitar. Tiga tokoh ini antara lain, KH. Mochsin Wahab asal Desa Dawuhan, Kecamatan Kademangan; KH. Muhammad Shofwan asal Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro; dan KH. Muhammad Ridwan asal Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro.

Namun setelah NU terbentuk resmi dan lengkap kepengurusannya, KH. Muhammad Shofwan dan KH. Muhammad Ridwan meminta izin untuk kembali berjuang untuk melestarikan pondok pesantren (ponpes).

Saat itu, Rais Syuriah dipegang oleh KH. Mochsin Wahab, sedangkan Ketua Tanfidziyah dipegang KH. Zahid Syafii, dengan masa khidmat 1951-1954.

“Secara formal, NU Cabang Blitar berdiri pada 26 Mei 1956 berdasarkan keputusan konferensi akbar,” ujar Arif, sapaan akrabnya, saat ditemui di kampus UNU Blitar kemarin (30/1).

Dia mengatakan, tidak hanya tiga tokoh ini yang berkontribusi terhadap berdirinya NU di Blitar.

Meskipun mereka menjadi inisiator, diduga ada banyak tokoh dan kyai senior yang berjasa dalam mendirikan organisasi itu.

“Sebenarnya pendirian NU tidak didirikan oleh satu, dua, atau tiga tokoh saja, tetapi NU berdiri karena kebangkitan dan kesadaran para ulama.

Hanya saja tiga tokoh itu yang berkerabat erat hingga menjadi inisiator pendiri NU di Blitar,” ungkapnya.

Nama Pengurus Cabang (PC) NU Blitar bertahan 1951 hingga 1988. Sebab saat itu antara Kabupaten Blitar dan Kota Blitar masih menjadi satu kepengurusan. Tahun berikutnya, kepengurusan NU di Blitar terpisah hingga kini.

Baca Juga: Gus Iqdam Sangat Menghormati Guru Atau Kyai, Ternyata Ini Manfaatnya

Dia menjelaskan, NU di Blitar menyebarkan ajarannya melalui ponpes yang ada di Kota dan Kabupaten Blitar. Karena itu, tidak heran NU sudah menjadi kebudayaan yang melekat di lingkungan pesantren.

“Saya berharap NU dapat terus berproses sesuai perkembangan zaman. Kalau tidak begitu, NU akan ketinggal dengan organisasi lainnya.

Termasuk mendirikan perguruan tinggi, ini juga merupakan untuk mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya. (jar/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#tokoh nu #harlah nu #Kabupaten Blitar #blitar