Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Produksi Telur di Blitar Bergantung Daerah Lain, DKPP Kabupaten Blitar Sampaikan Hal Ini

Mohammad Syafi'uddin • Rabu, 31 Januari 2024 | 18:57 WIB
HIJAU: Warga Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok sedang merawat jagung di lahan miliknya.
HIJAU: Warga Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok sedang merawat jagung di lahan miliknya.

BLITAR – Para paternak di Kabupaten Blitar tampaknya boleh sedikit berlega hati. Kendati harga jagung di Bumi Penataran tidak murah, itu jauh lebih terjangkau ketimbang harga di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim).

Sayangnya, itu bukan karena produksi lokal tinggi melainkan support dari daerah lain. Berdasarkan informasi dihimpun harga jagung di Blitar Raya masih berkutat diangka Rp 6 ribu per kilo gram (kg).

Jika merujuk pada Sistem Informasi Ketersediaan Pangan dan Bahan Pokok (SISKAPERBAKO) Provinsi Jatim, harga jagung tembus hingga Rp 9 ribu per kg. Misalnya, di Kabupaten Kediri, Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bangkalan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Hikma Wahyudi mengakui bahwa jagung menjadi bahan baku sektor peternakan di Bumi Penataran.

Sayangnya, produksi jagung lokal jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan peternak. “Kementerian Pertanian juga berharap agar area tanam jagung di Blitar diperluas,” katanya.

Tindakan yang biasa dilakukan ialah melalui program-program Perluasan Area Tanam (PAT) baik di sawah maupun bukan. Kendati begitu, pemerintah tidak bisa memaksa petani untuk menanam jagung.

“Harapanya dengan cara ini area tanam jagung bisa diperluas dan kecukupan jagung untuk pakan ternak bisa tercapai,” ujarnya.

Hikma-sapaan akrabnya-mengungkapkan sebagian besar petani memilih menjadi mitra perusahaan dan menanam jagung benih. Itu karena tidak ada risiko gagal panen atau harga murah saat musim panen tiba.

“Begitu harga jagung naik dikit saja, peternak protes. Mana mungkin jagung dari petani bisa naik harganya.

Atas hal ini, saya duga petani berpikir bahwa lebih baik menanam tumbuhan diluar jagung yang tidak di protes,” ungkapnya.

Lanjut dia, senang jika produk petani seperti jagung dihargai mahal. Meskipun peternak ayam menginginkan harga jagung murah agar produksi peternakan bisa ditekan.

Untuk mengakomodir kepentingan petani dan peternak, pihaknya berencana memberikan edukasi untuk menekan biaya produksi jagung.

Hal ini diperlukan agar petani jagung tidak merugi dan peternak tidak kelimpungan karena karena jagung mahal.

“Harapnya dengan biaya poduksi kecil, harga berapapun petani masih bisa untung. Sehingga kedua pihak tidak merasa keberatan dengan harga berapapun,” ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, kebutuhan jagung daerah masih mengandalkan support dari luar daerah dan luar negeri.

Hal ini tidak lain karena produksi tanam jagung lokal masih belum bisa mencukupi kebutuhan di lapangan.

“Kalau area semua sawah kita tanami jagung dan mengorbankan komoditas lain seperti padi. Memungkinkan kita untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak ayam.

Namun tidak bisa seperti itu, petani mempunyai hak untuk memilih komoditas tanaman,” (mg2/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #DKPP #produksi jagung #produksi telur