BLITAR-Belasan gitar yang menghiasi dinding menyambut setiap tamu datang di rumah Hariyanto. Maklum saja, pemilik rumah juga menggunakan hunian tersebut sebagai galeri sekaligus tempat untuk membuat karya alat musiknya.
Tidak hanya gitar, membuat ukulele, selo, kontrabass, biola dan mandolin juga menjadi keahliannya.
Tempat produksi alat musik ini berada di ruang belakang rumah. Tampak tumpukan lembaran kayu menjadi bahan pembuatan alat musik di beberapa sudut ruangan.
Di samping bengkel ini ada ruangan khusus untuk finishing, pemasangan senar dan pengaturan gitar.
Alat kerjanya terlihat berserakan di ruang produksi ini. Gergaji, bor, mesin pemotong dan mesin amplas tidak tertata rapi.
Dia bekerja sendiri dalam membuat alat musik petik ini. Belum memiliki rencana merekrut seseorang untuk membantu pekerjaanya tersebut.
“Bahan pembuatan alat musik di tempat saya semua terbuat dari kayu mahoni, bukan dari tripleks. Mungkin itu yang membedakan alat musik yang saya buat dengan perajin lain.
Kayu mahoni ini mudah didapat dan kualitasnya juga bagus untuk membuat alat musik petik,” ujar Hariyanto sembari menunjukkan ukulele setengah jadi Rabu,(31/1).
Menjadi perajin gitar merupakan cita-citanya sejak kecil. Alasannya sederhanya, yakni karena hobi bermusik.
Namun dia bisa menekuni usaha membuat kerajinan alat musik itu 2015 silam. Itu setelah dia lulus SMK dan menikah.
Kepiawannya membuat alat musik ini muncul setelah melihat liputan di televisi (TV) soal perajin gitar di Blitar. Itu membuatnya terinspirasi dan membuat alat musik.
Dia pada 2015 memiliki masalah keluarga dan butuh menenangkan diri. Ini pula yang menjadi pemantik dan memulai membuat gitar.
Ternyata, aktivitas produktif ini tidak hanya membawa ketenangan. Namun juga menjadi sumber rezeki hingga kini.
Awal mula menekuni usaha ini, dia dihadapkan pada tantangan pemasaran. Dia belum tahu kondisi pasar alat musik.
Lantas mulai mencari ilmu produksi gitar dan pemasaran lewat YouTube. Pelan namun pasti, produk usahanya ini diterima oleh pasar dan mulai banyak pesanan.
Bahkan dia juga gabung dengan komunitas perajin gitar untuk meningkatkan kualitas produksi.
“Saya memasarkan gitar dan alat petik lainnya ini secara daring. Cukup banyak yang mengenal. Syukur, sudah pernah melayani pemesanan alat musik untuk seluruh daerah di Indonesia, kecuali Irian Barat.
Ada beberapa pesanan dari luar negeri, seperti Hong Kong, Malaysia dan Amerika,” ungkapnya.
Laki-laki 35 tahun ini menjabarkan bahwa alat musiknya banyak dipesan oleh seniman keroncong. Konon, mereka terkesan dengan kualitas barangnya. Meskipun harga alat musiknya lebih mahal dibandingkan lainnya.
Dia mematok ukulele mulai Rp 350 ribu sampai Rp 1,9 juta per unit. Namun untuk gitar, dijual mulai harga Rp 800 ribu sampai Rp 3,6 juta per unit.
Dia juga pernah mendapat pesanan satu set alat musik keroncong, mulai gitar, ukulele, biola, kontrabass, celo dan mandolin dengan harga Rp 25 juta.
“Dalam sebulan, rata-rata ada dua barang yang terjual. Karena proses pembuatan satu alat musik juga lama, yakni sekitar dua minggu hingga sebulan.
Tapi, saya memberikan garansi satu tahun kepada pelanggan,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila