Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kuliner Khas Pecinan di Blitar, Tak Hanya Dinikmati Keturunan Tionghoa, Hangat di Musim Hujan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 5 Februari 2024 | 19:02 WIB
HANHAT: Pedagang kembang tahu, menjajakan daganganya di depan pasar Templek Kota Blitar
HANHAT: Pedagang kembang tahu, menjajakan daganganya di depan pasar Templek Kota Blitar

BLITAR - Kembang tahu yang biasa dinikmati keturunan Tionghoa ini hanya dapat ditemui di depan Pasar Templek Kota Blitar, atau di samping gang Jalan Bungur.

Pedagangnya bernama Waras, 45, selalu membawa gerobak dengan mengayuh sepeda ontel di lapaknya setiap hari.

Satu lagi yang khas dari tampilannya, yakni Waras sering memakai baju batik ketika berdagang. Dia dapat ditemui di depan Pasar Templek mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.

“Biasanya saya pulang dengan dagangan hampir habis,” katanya ketika ditemui Jumat (2/2).

Minuman ini berbahan susu kedelai yang berwarna putih dan seperti jenang sum-sum. Namun lebih lembut ketika masuk dalam mulut.

Kembang tahu ini diminum dengan ditemani kuah jahe, sehingga nikmat dikonsumsi saat hawa dingin dan saat musim penghujian seperti sekarang.

Karena untuk menghangatkan tenggorokan dan sekaligus cupuk untuk mengisi perut.

“Saya sudah berjualan kembang tahu ini sudah sejak 2003. Awalnya keliling dari rumah saya yang berada di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, menuju Jalan Merdeka yang banyak warga keturunan Tionghoa,” ujarnya.

Dia melanjutkan, langanggannya yang merupakan keturunan Tionghoa sudah banyak yang meninggal dunia.

Sehingga sudah hampir lima tahun, tidak lagi berkeliling di seputar Jalan Merdeka. Sehingga memutuskan untuk menetap berjualan di depan Pasar Templek.

Hasilnya, ternyata banyak masyarakat umum menyukai kembang tahu hasil buatannya. Bahkan, beberapa orang luar kota juga beberapa kali datang untuk membeli kuliner khas pecinan ini.

Sebab, banyak yang mengakui rasa kembang tahu yang dijualnya cukup original dan khas, karena tidak dicampuri bahan lainnya.

Sayangnya, momen menjelang Hari Raya Imlek ini tidak dibarengi dengan peningkatan pembeli kembang tahu. Pembelinya kini lebih banyak masyarakat umum daripada keturunan Tionghoa.

Dia berharap  warga keturunan Tionghoa di Blitar saat ini dapat meminati kembang tahu, yang dulu sempat populer di kalangan mereka.

“Saya menjual kembang tahu ini dalam satu porsi hanya Rp 5 ribu saja. Kalau di kota lain ada Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu.

Saya masih konsisten dengan harga itu, agar dapat mempertahankan pelanggan yang sudah ada dan berharap tambah peminatnya,” ungkapnya. (jar/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pecinan #kembang tahu #kuliner #Kota Blitar #pasar templek