BLITAR - Masyarakat Desa Penataran, Kecamatan Nglegok dibuat jengkel oleh lalu lalang kendaraan truk.
Pasalnya kendaraan pengakut bahan material ini masih saja melintas di area pemukiman warga. Padahal, awal tahun lalu petugas desa sudah membuat larangan.
Warga jengkel dengan mobilitas truk bermuatan tinggi tersebut. Betapa tidak, kendaraan tersebut tetap hilir-mudik saat malam hari. Suara bising yang ditimbulkan kendaraan truk ini cukup mengganggu istirahat.
“Kalau malam derungan kendaraan dan suara bak truk yang terbuat dari besi itu meghasilkan suara yang mengganggu. Seperti seng yang dipukul,” ujar warga yang enggan disebut namanya.
Tak hanya itu, perempuan berkerudung ini mengatakan bahwa kendaraan truk yang bermuatan pasir basah juga cukup membahayakan.
Pasalnya, air tetesan sering menggenang dan mengakibatkan jalan licin. Bahkan ketika pagi hari sering ditemui beberapa truk yang berjejer dengan jumlah lebih dari lima unit.
“Kami khawatir, jalan ini akan ikut rusak juga. Apalagi kemarin ketika jalan licin kami lumayan kesusahan untuk mengantar sekolah.
Soalnya sering berhadapan dengan truk-truk yang lewat. Ada juga pelajar yang terpeleset, tapi bersyukur dia tidak sampai luka-luka,” ungkapnya.
Sementara itu, Jogoboyo Desa Penataran, Suyoko mengungkapkan bahwa pemerintah desa sudah menunjukk petugas untuk berjaga. Namun, kini banyak truk yang mbobol, terutama diwaktu malam hari.
“Mau gimana lagi. Diarahkan tidak bisa. Alasanya truk lokalan masih bisa lewat sedangkan truk luar tidak bisa lewat.
Padahal truk lokalan itu lewat karena sudah ada kesepakatan sebelumnya. Mereka mau memperbaiki jalan yang rusak,” ungkapnya.
Sebenarnya, minggu lalu dia mengajak paguyuban sopir material untuk musyawarah terkait aktivitas truk.
Namun hingga kini belum bisa menemukan titik terang. Bahkan sopir truk yang hadir terpecah menjadi dua kubu ada yang patuh dan tidak.
Parahnya, dalam sehari ada ratusan truk yang melewati jalan desa tersebut. Namun, akhir-akhir ini jumlahnya menurun.
Yoko -sapannya- menduga hal ini karena pelaku usaha tambang sedang off. “Yang ada saat ini ya penambang lokalan. Kendati sudah berkurang ini masih tetap menggagu masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, petugas desa sudah jengkel dengan aktivirtas truk bermuatan pasir ini. Petugas bingung mengarahkan para sopir ini dan terkesan pasrah karena tidak bisa diarahkan.
“Mau gimana lagi, petugas desa itu tidak mungkin bisa terus menjaga. Tugas lainya juga banyak. Kami itu bingung, apalagi truk yang overload sering lewat jalur ini.
Meraka beralasan jalan memutar yang dipilihkan perangkat desa rusak dan tidak nyaman. Akibatnya mereka menggunakan rute jalan dengan yang bagus.
Namun jika dibiarkan jalan desa ini juga ikut rusak,”terangnya.
Dia menambahkan, truk overload mengakibatkan gorong-gorong di dekat kantor desa jebol. Diduga itu karena tidak mampu menahan beban truk bermuatan pasir.
Kini, separo jalur tersebut terpaksa tidak bisa digunakan. (mg2/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila