Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pasutri di Blitar Jemput Hoki di Momen Imlek lewat Miniatur Clay, Harus Rajin Berburu Referensi Biar Karya Tak Monoton

M. Luki Azhari • Rabu, 7 Februari 2024 | 17:11 WIB
CAPTION: Tanto Gunawan dan Vivi Margono, pasutri warga Kecamatan Sukorejo yang sukses tekuni usaha kerajinan miniatur clay.
CAPTION: Tanto Gunawan dan Vivi Margono, pasutri warga Kecamatan Sukorejo yang sukses tekuni usaha kerajinan miniatur clay.

 

BLITAR - Ruangan memanjang berdinding kaca di toko area depan menjadi tempat yang paling sering dipijaki Tanto dan Vivi.

Keduanya bisa hampir seharian penuh berada di ruang minimalis tersebut untuk menghasilkan kerajinan unik berbahan dasar tanah liat.

Berbekal kreativitas dan kesabaran, ragam miniatur berbagai tema karya pasangan ini laris manis di pasaran.

Rabu (6/2) siang, Tanto, 36, dan istrinya tampak kompak mempersiapkan salah satu miniatur bertema Imlek.

Kerajinan bernuansa biru dengan hiasan ornamen khas Negeri Tirai Bambu ini tampak detail. Ada pula hiasan naga mungil untuk mempertegas bahwa Imlek tahun ini mengawali tahun shio naga kayu.

“Ini sudah tinggal kirim, karena memang sudah mendekati momennya. Nanti ada beberapa miniatur lagi yang bakal kita garap,” ujar Tanto.

Miniatur tersebut dibuat menyerupai aslinya. Hal ini begitu kentara dari hidangan kudapan dan makanan berat yang biasanya tersaji pada perayaan Imlek.

Misalnya, jeruk, kue keranjang, mi, lapis legit, dan menu penuh filosofi lainnya. Meski ukurannya mini, tangan terampil Tanto dan Vivi mampu membuat semua olahan masakan itu tampak nyata.

Pria berambut cepak ini menambahkan, ada proses panjang dan tak mudah di balik hasil cemerlang.

Salah satu tahap awal yang tidak bisa dilewatkan yakni membuat desain dan konsep. Menurutnya, ini jadi proses cukup sulit dan memerlukan waktu. Sebab, konsep akan mentukan hasil akhir.

Keduanya biasanya rajin mencari referensi. Setelah itu, konsep digambar lalu masuk pengerjaan. Pelanggan juga bisa mengirim desain sesuai keinginan.

Miniatur ini biasanya untuk hadiah ulang tahun, acara besar keluarga, pembukaan usaha baru, seserahan, pernikahan, dan lainnya.

“Kalau istri lebih detail untuk hiasan sebagai pemanis. Seperti makanan di meja saji, hingga objek lainnya. Harus sering cari referensi biar tidak monoton,” sambungnya.

Kerajinan ini kali pertama ditekuni oleh Vivi pada 2009 silam sebelum menikah. Dia memang hobi membuat kerajinan dari tanah liat kemudian diletakkan di lemari.

Pada 2014, Vivi menjual miniatur tersebut lantaran lemarinya sudah terlalu penuh. Sepuluh tahun lalu menjadi awal perjalanan perempuan ramah itu rajin membuat kerajinan dari tanah liat yang diimpor langsung dari Jepang ini.

Vivi menilai bahwa selama ini produksi tidak terpaku pada momen hari besar saja. Namun, juga membuka peluang seluas-luasnya bagi pembeli yang ingin pesan sesuai model dan keinginan.

Selain diorama lengkap dengan hiasannya, dia juga membuat miniatur makanan atau objek lain secara satuan.

“Bersyukur juga ada beberapa customer kami dari brand ternama. Rata-rata yang pesan tidak komplain dan puas dengan hasilnya,” sambungnya.

Sebagai pribadi yang perfeksionis, Vivi ingin setiap karya yang dia dan suami buat memuaskan kala diterima pembeli. Untuk itu, sebelum dikirim selalu melalui tahap finishing.

“Biasanya kalau Imlek itu justru banyak yang pesan setelah perayaan. Makanya kami ready stock, tapi terbatas,” tutur perempuan berambut sepundak ini.

Pemasaran kerajinan tangan ini dilakukan via media sosial (medsos). Pelanggannya pun berasal dari berbagai daerah.

Misalnya, Surabaya, Jogjakarta, Makassar, Jakarta, dan kota besar lainnya. Miniatur ini dipasarkan mulai harga Rp 5 ribu hingga di atas Rp 7 juta atau menyesuaikan tingkat kerumitan pesanan.

Baik Tanto dan Vivi berharap agar kemakmuran tak hanya datang saat tahun baru China, tetapi sepanjang waktu. Usaha yang dirintis sejak 10 tahun silam ini juga diharapkan terus meluas dan merambah ke pasar lebih luas.

“Target tentu ada. Yang jelas, kami kepengin terus bikin karya yang tidak hanya bagus, tapi juga memuaskan. Sehingga tetap enak dipandang kapan pun,” tandasnya. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#miniatur #imlek #kerajinan #Kota Blitar