BLITAR-Lebih dari 60 jenis tanaman hias menghuni green house milik Adi Wena Nugroho. Puluhan jenis tanaman hias itu berada Di Jalan Ciliwung, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, tepatnya di lahan belakang rumahnya. Selain itu ada juga di Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok. Kedua green house itu dikelola bersama temannya.
90 persen tanaman hias itu merupakan tanaman khas Indonesia. Sisanya, berasal dari luar negeri yang sulit berkembang di sana, tetapi mudah di budi dayakan di Indonesia. Biasanya karena faktor cuaca sehingga mudah tumbuh.
“Karena kalau disana ketika musim dingin suhunya bisa melebihi rata-rata,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar ketika ditemui di Grenn House miliknya.
Pria 33 tahun ini mengaku memulai hobi koleksi tanaman hias sejak 2012. Kemudian pada 2017, tepatnya setelah lulus kuliah muncul ide untuk berbisnis tanaman hias.
Peluang besar terlihat pada 2019 yang saat itu harga jual antara luar negeri dan Indonesia yang berbeda jauh.
“Nah, mulai dari situ kami mulai mencoba untuk ekspor. Melengkapi persyaratan dan legalitas,” imbuhnya.
Saat ini, Adiwena juga memiliki green house tanaman hias di Amerika. Bahkan, akan membuka green house kedua di Belanda. Saat ini sedang dalam tahap riset tanaman dan perizinan.
Pria ramah ini menerangkan meski berada di luar negeri, semua tetap di handle dari Indonesia. Mulai market place hingga custoner service. Sehingga, di sana hanya menerima barang, merawat tanaman, dan mengirim tanaman sesuai orderan yang masuk.
Menurut dia, proses mengirim tanaman hias ke luar negeri cukup sulit. Sebab, pengiriman paling cepat 7 hari dan maksimal dua minggu.
Ketika sampai juga harus tetap fresh. Selain itu, ketika di pesawat tidak boleh memakai media tanah. Sehingga, harus menggunakan cocopit dan dilapisi kertas sebelum dimasukkan kedalam box.
“Pengalaman selama ini ya sering rusak ketika sampai sana. Kadang sampai ratusan. Dan kalau sudah rusak ya rugi. Kalau terserang hama biasanya di sana langsung dihancurkan. Jadi gak bisa dijual lagi,” bebernya.
Baca Juga: Mengenal Perbedaan Tanaman Hias Kaktus dan Sukulen yang Sedang Tren serta Perawatan Mudah
Dalam seminggu rutin mengirim minimal 200 tanaman. Bahkan, bisa sampai 1.000 jika banyak pesanan. Dari data mulai 2020-2023 sekitar 1.800 tanaman itu sudah dikirim ke hampir ke semua benua.
“Kalau omzet berubah-ubah alias tidak bisa dipastikan. Pernah 2020 sampai Rp 200 juta. Karena permintaan sedang tinggi-tingginya. Kalau sekarang minimal 5-7 juta per bulan,” paparnya.
Hingga saat ini tanaman hias masih banyak peminat. Hanya, perpindahan jenis tanaman hias seperti philodendron dan anthurium atau kuping gajah. Setiap negara juga punya selera tanaman hias yang berbeda.
Misalnya, Asia Timur suka tanaman yang kecil-kecil dan tanaman yang dipajang di tembok. Sehingga, sebelum mengirim tanaman melakukan riset terlebih dulu.
“Masih banyak peminat (tanaman hias). Hanya perpindahan jenis saja. Kalau dulu mungkin dalan jumlah besar, sekarang ya masih walaupun gak banyak,” terangnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila