Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Penari Tradisional Asal Blitar Dwi Laila Sari, Mengajar Mapel Seni, Ingin Kenalkan Budaya Blitar ke Luar Negeri

Fajar Ali Wardana • Senin, 12 Februari 2024 | 17:06 WIB
ANGGUN DAN LUWES: Laila menari tarian tradisional dengan kostum khas di suatu pentas beberapa waktu lalu.
ANGGUN DAN LUWES: Laila menari tarian tradisional dengan kostum khas di suatu pentas beberapa waktu lalu.

BLITAR-Bumi Penataran punya talenta yang cukup berkualitas di bidang tari tradisional. Dia adalah Dwi Laila Sari, warga Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari. Misinya mengenalkan seni dan budaya Blitar kepada dunia.

Laila, sapan akrabnya, menari sejak SD kelas 2. Dia memiliki cita-cita menjadi penari. Sejak kecil, dia sudah rajin berlatih di sanggar tari lingkungan tempat tinggalnya.

Selama belajar menari, Laila terpilih dalam seleksi lomba porseni tingkat SD. Berlaga di tingkat kecamatan hingga berhasil mewakili Kabupaten Blitar untuk pentas di tingkat Jawa Timur (Jatim).

Ketika masuk SMP, Laila ikut festival seni siswa. Setelah lulus, dia mendaftar di SMK khusus seni yang ada di Surabaya atau sekarang SMK 12 Surabaya. Dia mengambil seni tari dan materi yang didapat juga beda dengan sekolah umum.

Pada 2014, Laila meneruskan ke pendidikan tinggi di ISI Surakarta. Dia sering pentas di kampus atau acara luar demi menambah jam terbang.

Adapun tugas akhir yang diangkatnya tentang pentas kepenarian gaya Surakarta. Kemudian, skripsinya tentang tari tradisional.

Karier menarinya cukup menantang karena ingin menguasai genre tari Jawa Tengah. Jenis tari tersebut dianggap lebih halus dan berbeda dari Jawa Timur.

Menjadi seorang Duta Kesenian Kabupaten Blitar, Laila pernah tampil di Jakarta dan Bali. Keduanya merupakan pentas tari yang terjauh dan cukup berkesan.

”Ketika di Pulau Dewata, saya tampil di acara pekan kesenian Bali. Memerankan tokoh Trijoto, adiknya Rahwana. Sering memerankan tokoh Jawa. Apalagi di Blitar juga sering tampil di Festival Kresnayana,” ungkapnya.

Perempuan 28 tahun ini mengaku bahwa orang tuanya sangat mendukung aktivitasnya dalam menari. Orang tua memang melihat bakat menari Laila sejak kecil hingga diikutkan latihan di sanggar.

Saat ini, Laila disibukkan dengan mengajar mata pelajaran seni. Dia tercatat sebagai guru seni di SMPN 1 Wlingi. Sudah 3 tahun ini dia menjadi guru sekolah tersebut.

Baca Juga: Cara Jeng Arum Maknai Seni Tari, Sebagai Bentuk Kontrol Diri

Laila mengawali mengajar di Solo sejak 2018. Setelah itu, dia pulang ke Blitar pada tahun 2022. Meskipun begitu, dia terus aktif dalam bidang seni tari di sekolah atau di dewan kesenian.

Bahkan, dia juga memegang ekstrakulikuler tari di SMP dan pernah mengisi Blitar Carnival. Semangatnya itu membawanya menjadi juara favorit pembina ekstrakulikuler.

Laila merasa resah karena kini tak sedikit anak kurang mengenal kesenian dan kebudayaan lokal. Mereka kalah dengan gadget sehingga dipengaruhi kebudayaan lain dan justru kecanduan.

”Saya masih punya impian yang belum terwujud. Yakni, ingin membawa misi kebudayaan Blitar ke luar megeri agar lebih dikenal dunia. Sayangnya belum rezeki. Sebenarnya banyak caranya, tapi belum ada rezeki saja,” pungkasnya. (jar/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#penari tradisional #profil #Kabupaten Blitar #seni