BLITAR-Kepala SMAN 1 Kademangan, Prawoto, sebelum jadi seorang guru, ternyata ia tertarik terhadap catur sejak berada di sekolah dasar. Itu lantaran sebagian besar keluarganya adalah penggemar olahraga tersebut. “Ibu saya yang mengajarkan bermain catur,” ungkapnya.
Besar di lingkungan keluarga penggemar catur, membuatnya semakin bersemangat untuk mengasah kemampuannya di bidang tersebut. Dia bercerita, pada saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar (SD), bapaknya kala itu ikut lomba catur antar kecamatan dan menjadi pemenang.
Saking sayangnya orang tua kepadanya, sampai ayahnya membuatkan bidak catur berukuran besar. “Sampai sekarang saya jadi guru masih saya simpan kenang-kenangan dari ayah (bidak catur, Red). Itu saya jadikan sebagai tambahan motivasi,” katanya.
Saat menginjak bangku SMP dan dengan skill-nya yang sudah mumpuni, dia mulai aktif mengikuti lomba catur. Termasuk kompetisi di sekolahnya untuk meramaikan dies natalis. Hasilnya, dia keluar sebagai juara satu.
Selain itu, dia rutin mengikuti lomba catur antarkecamatan. “Dulu sebelum ada Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), saya sering ikut lomba untuk menambah pengalaman, melatih mental, dan menyalurkan hobi. Saat itu kebetulan sering dapat juara,” ungkapnya lantas tertawa.
Dia melanjutkan, ketika pendidikan di salah satu universitas di Jawa Timur pada tahun 1992, pada saat masa pembinaan mahasiswa baru diadakan kompetisi catur antarmahasiswa seuniversitas.
Lomba tersebut diikutinya dengan penuh percaya diri serta bekal pengalaman. Alhasil, dia bisa meraih juara satu. Dengan pencapaian yang diraih, dia akhirnya dilantik menjadi pengurus Persatuan Catur Mahasiswa (Percama) di universitas tempatnya belajar.
Karena bisa mengoleksi segudang prestasi di olahraga catur, dia mendapatkan beasiswa tunjangan ikatan dinas untuk langsung menjadi guru.
“Setelah lulus dari bangku kuliah, saya langsung diangkat menjadi guru di salah satu SMA di Kabupaten Blitar,” terangnya.
Dia mengaku bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering terpengaruh filosofi catur. “Kita rugi sendiri jika berbuat ceroboh dan grusa-grusu. Maka dari itu, semua harus dipikirkan secara matang,” ungkap pria yang juga menjadi wakil Ketua Percasi Blitar untuk dewasa tersebut.
Dia kini memiliki pengalaman selama kurang lebih tiga bulan. Yakni, menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Kademangan.
“Ini pengalaman pertama saya menjadi kepala sekolah, dan bersyukur semua pengajar di sini saling mendukung serta bisa bersinergi dengan baik,” pungkasnya. (iyo/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila