BLITAR – Sebanyak 18 personel kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) Pemilu 2024 di kabupaten Blitar pingsan saat bertugas. Karena faktor kelelahan dan telat makan ini, sebagian dari mereka terpaksa harus menjalani rawat inap.
Kepala Puskesmas Gandusari, Agus Winarto mengaku, ada beberapa pasien KPPS di kabupaten Blitar yang sempat dirawat di puskesmas tempatnya bekerja dengan alasan kelelahan. Setelah menjalani perawatan selama satu malam, dua orang anggota KPPS pemilu 2024 ini diperbolehkan pulang Kamis (15/2) siang.
“Pasien laki-laki mengalami sakit pada lambung dan infeksi akibat kelelahan. Jadi sudah membaik ya bisa dipulangkan pada Kamis pagi. Untuk pasien perempuan terkena penyakit tifus, tapi bisa pulang pada Kamis siang,” ujar Agus yang ditemui di kantornya Kamis (15/2).
Dia melanjutkan, tifus bisa terjadi karena mengonsumsi makanan yang tidak higienis. Sementara untuk kasus lambung, itu diduga dipicu telat makan. Hal ini diperparah dengan kondisi fisik yang kelelahan saat menjadi petugas KPPS dan mengalami gejala sakit perut. Beruntung, kondisi tersebut segera mendapatakan penanganan sehingga tidak terjadi hal yang fatal.
“Hanya dua KPPS itu yang dirawat di puskesmas kami. Kami juga memantau pelaksanaan pemilu, dan hasilnya, KPPS lainnya di Kecamatan Gandusari dalam kondisi sehat dan telah melaksanakan tugasnya,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Christine Indrawati mengatakan, sebanyak 18 penyelenggara Pemilu 2024 yang jatuh sakit itu terdiri atas petugas KPPS, PPS, linmas, dan Bawaslu.
Ada tiga panitia pemilu yang menjalani rawat inap. Yakni, 2 orang di Puskesmas Gandusari dan 1 orang di Puskesmas Selopuro. “Sisanya hanya faktor kelelahan. Setelah dilakukan observasi dan pemberian vitamin, para penyelenggara pemilu tersebut diperkenankan pulang,” katanya.
Christine mengungkapkan, gejala yang dialami cukup beragam. Misalnya, pusing, mual-mual, demam, dan sakit perut. Selain itu, ada yang mengalami vertigo, diare, mual, dan muntah.
Rata-rata usia penyelenggara pemilu yang sakit berumur antara 21 hingga 30 tahun. Perinciannya, vertigo 3 kasus, gastritis 3 kasus, diare 2 kasus, mual dan muntah 2 kasus, dan ada 1 pasien didiagnosis abortus atau keguguran. Dalam kasus ini, yang bersangkutan hanya menjalani rawat jalan.
“Rata-rata penyebabnya karena faktor kelelahan. Sebab, waktu istirahat sebagai petugas pemilu memang sedikit dan pekerjaannya cukup menyita tenaga dan pikiran. Semoga saja tidak ada lagi panitia pemilu yang tumbang,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila