Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Makanan Khas Tahu Takwa Asal Blitar, Dilumuri Dengan Sambal Kecap, Berasa Makin Manis dan Gurih

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 19 Februari 2024 | 17:48 WIB
NIKMAT: Surya Marko Paulin menyajikan tahu takwa dengan dipotong kecil dan ditaburi sambal kecap.
NIKMAT: Surya Marko Paulin menyajikan tahu takwa dengan dipotong kecil dan ditaburi sambal kecap.

BLITAR - Surya sapaan akrabnya telah empat tahun berdagang tahu takwa. Tidak hanya berjualan di Kota Blitar, sesekali juga menjajakan dagangannya di wilayah kabupaten seperti Lodoyo dan Wlingi. Untuk berjualan di Lodoyo seminggu sekali pada Senin dan Wlingi sebulan sekali. 

”Kalau di Wlingi banyak orang Tionghoa yang berminat tahu takwa saya. Bahkan mereka suka beli, bisa sampai ratusan biji. Karena memang tahu takwa ini khas kuliner orang cina. Sedangkan di Lodoyo, ada beberapa Tionghoa dan orang lokal yang berminat tahu takwa,” ujar Surya yang ditemui di timur Kantor Wali Kota Blitar, Jumat (16/2).

Dia memproduksi tahu takwa sejak subuh hingga pukul 09.00 WIB, tentu dibantu dengan bapaknya bernama Budi. Kemudian berangkat ke lokasi di Blitar, dengan berdagang pukul 10.00 WIB, hingga tahu yang dibawanya sebanyak 250 biji habis. Biasanya, dagangannya habis pukul 17.00 WIB.

Sedangkan bapaknya berjualan memakai sepeda onthel, dengan berkeliling jalanan Kota Blitar. Hal itu dilakukan karena orang tuanya ingin menjaga ciri khas, yang sejak awal memang berjualan tahu takwa dengan memakai sepeda, meskipun harus ke Lodoyo. 

Namun, kini tidak lagi karena mudah capek dan faktor usia. Ada perbedaan dalam penyajian tahu takwa milik Surya. Biasanya, dia menawari konsumen terlebih dulu apakah ingin dipotong atau dibawa secara utuh.

Jika tahunya dipotong dan dimakan di tempat, Surya akan membungkus dengan daun pisang. Tahu takwa yang sudah dipotong kecil itu lalu ditaburi sambal kecap. Rasanya gurih dan manis.

“Peminat tahu takwa yang saya jual cukup ramai. Selain dari Kota Blitar, banyak juga yang dari luar kota, seperti Malang, Surabaya dan Tulungagung.

Ada juga yang dari luar negeri seperti Hongkong, Australia dan Malaysia, karena titip saudaranya yang ada di Blitar,” ungkapnya.

Tahu takwa buatan Surya memang tidak ada bahan pengawetnya. Tentu harus disimpan di kulkas agar awet dan jika tidak disimpan di tempat dingin akan luntur warna kuning yang berasal dari kunyit tersebut.

Surya menjual tahu takwa Rp 2 ribu per biji. Rata-rata pembeli memesan tiga hingga lima biji. Namun, untuk orang tionghoa biasanya membeli hingga ratusan. 

“Dari awal penjualan tahu takwa, memang selalu saya tawari dipotong dan dibungkus pincuk.

Saya rasa ini hanya di Blitar, tahu takwa yang dipotong dan dikasih sambal kecap,” pungkasnya. (jar/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#blitar #tahu takwa