BLITAR-Selain bergulat dengan lawan-lawannya di setiap pertandingan, David nyatanya harus pula bertarung melawan diri sendiri. Menaklukkan rasa takut yang acap kali menyelimuti mentalnya saat awal mengenal dunia karate. Sebelum lalu-lalang menuai hasil manis di berbagai ajang tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga internasional, pelajar kelas XI SMK di Blitar ini punya pengalaman masa kecil yang berbanding terbalik dengan kariernya sekarang.
Saat masih berusia 12 tahun, ayah dari remaja warga Dusun Sawentar, Kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar ini mulai mengenalkannya dengan cabang olahraga yang cukup menantang, yaitu karate. Namun, David tegas berusaha mematahkan ambisi orang tuanya itu. Dia bahkan menangis dan enggan mengikuti setiap sesi latihan.
“Tadinya takut. Saya sama sekali enggak tahu bela diri apa, nggak tahu. Takutnya karena mental kurang bagus awalnya, latihannya menendang, tinju juga,” ujarnya, Minggu (18/2). Meski semula bersikukuh menolak tawaran sang ayah, perlahan David mulai melunak. Dia akhirnya mau mengikuti program latihan dasar karate di Blitar.
Keputusan yang diambil remaja 17 tahun ini berkat dukungan dan motivasi keluarga serta orang-orang terdekat. Sejak saat itu, David mulai tekun melahap porsi latihan.
Kejuaraan perdana yang diikutinya yakni Bupati Cup IV Kumite Pra Pemula Putra pada 2017 lalu. David kelas VI SD kala itu harus puas berdiri di podium ke-3. Pencapaian ini membuat konsistensinya melonjak naik dan kembali dipercaya mengikuti kompetisi karate saat menempuh bangku SMP.
Sayangnya, perjalanan remaja yang hobi bermain futsal ini tak semulus yang dia harapkan. Momen pahit yang hingga kini dikenangnya yakni saat mengalami cedera ketika menjalani pertandingan.
David yang saat itu duduk di kelas IX SMP ambil bagian di kompetisi karate terbuka di Kediri. Kaki kirinya yang menjadi tumpuan mendadak terkilir, sesaat setelah kaki kanannya melakukan tendangan.
“Posisinya pergelangan kaki kiri yang muntir, itu saat gerakan memutar. Rasanya langsung linu. Dari situ sempat istirahat 5 bulan karena pemulihan lama,” tuturnya.
Walaupun sempat dirundung cedera, semangatnya tak luntur. David kembali memacu asa dan bersinar di sejumlah kompetisi di jenjang SMP. Salah satunya di tingkat regional yakni Juara I Kata Putra Inkado Cup Jatim 2022.
Di bangku SMK, torehan prestasi prestisius lagi-lagi ditorehkannya. Pelajar yang mengambil fokus teknik permesinan ini mengukir prestasi di kancah internasional.
Seperti menjadi Juara I Kumite Senior Putra Piala Raja Internasional Jogjakarta 2022; Juara II Kumite Junior Putra Jogjakarta Internasional Championship 2023; dan teranyar Juara II Kumite Junior Putra Piala Unesa International Rector Cup 2023.
“Kalau dibayangkan dengan saya yang dulu, yang selalu nangis tidak mau latihan, ini kayak mustahil. Tapi kalau mau mencoba, berusaha, dan berdoa pasti jadi nyata,” tuturnya.
Ambisinya di dunia karate, selain meraup prestasi juga untuk menambah relasi pertemanan. Hal itu dapat dibangun melalui sikap dan jiwa bertanding yang sportif. Di dalam lapangan menjadi lawan, tapi di luar arena bersahabat.
“Sebagai remaja atau generasi muda, saya penginnya terus berkembang lewat bakat ini. Syukur-syukur bisa jadi insipirasi. Terima kasih untuk keluarga dan teman-teman yang memotivasi,” tandasnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila