BLITAR - Perkumpulan Dares Blitar (Perdata) terbentuk atas keresahan mitos yang beredar di masyarakat terhadap burung hantu. Mereka juga mengajak warga melindungi habitat dares sebagai langkah nyata membantu petani membasmi hama.
Bertengger di pundak, tangan, dan kepala. Meski tergolong hewan nokturnal, burung-burung hantu peliharaan kawan komunitas Perkumpulan Dares Blitar (Perdata) ini menatap tajam kala siang hari. Seolah siap memburu mangsanya.
Meski tampak garang, dares (owl) tergolong sahabat petani memberantas hama. Tikus dan ular-ular kecil jadi hidangan lezat bagi burung ini.
Visi tersebutlah yang sejatinya ingin terus digaungkan oleh komunitas beranggotakan 10 orang ini. Burung hantu bukanlah musuh petani. Bahkan di sejumlah daerah, pemerintah telah memfasilitasi sejumlah titik lahan pertanian dengan rumah burung hantu. Harapannya burung-burung tersebut dapat meminimalisasi tikus sebagai musuh petani.
Pengurus Komunitas Perdata, Yuwan Irmanto menjelaskan burung yang termasuk hewan predator ini memiliki habitat di ruang terbuka. Salah satu jenis owl yang berkontribusi mengurangi hama pertanian yakni jenis tyto alba. Burung yang dominan berwarna putih ini aktif di malam hari dan memiliki kemampuan deteksi mangsa yang tajam.
"Jenis tyto alba salah satu yang berburu mencari hama pertanian. Ini juga jadi tujuan kami untuk sosialisasi ke petani dan masyarakat luas agar melestarikan owl, tidak untuk diburu," ungkapnya, Senin (20/2/2024).
Sayangnya, keberadaan owl kerap kali jadi sasaran empuk para pemburu. Hewan ini masih jadi sasaran untuk diburu dengan cara ditembak. Jika aktivitas tersebut terus-menerus berlangsung, dapat mengancam habitat owl sekaligus berpotensi membuat kuantitas hama tikus di sektor pertanian berkembang pesat.
Pemuda 21 tahun ini mengimbuhkan, fenomena inilah yang jadi keresahan Perdata. Melalui tujuan yang sama, puluhan orang dengan latar belakang berbeda ini merapatkan barisan.
Di pengujung 2016, mereka secara kompak membentuk Perdata. Selain aktif sosialisasi terkait peran penting burung hantu, komunitas ini hadir sebagai wadah hiburan dan edukasi.
"Awalnya iseng juga teman-teman membentuk perdata. Walaupun begitu, tujuan kami memang sebagai edukasi, juga meluruskan mitos-mitos burung hantu," papar warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan ini.
Ya, sebagian masyarakat di tanah Jawa memang erat kaitannya dengan klenik. Tak terkecuali, meyakini bahwa keberadaan burung hantu merupakan sinyal datangnya mala petaka. Namun begitu, hal ini dibantah olehnya.
"Di setiap pertemuan atau stan pameran, kami menyosialisaskan kepada masyarakat bahwa mitos suara burung hantu ada orang meninggal itu hoax," tutur pemuda yang sudah bergabung di komunitas tersebut sejak duduk di bangku SMA ini.
Adapun, sejak berdiri pada 2016 komunitas pecinta burung hantu ini kerap melakukan gathering setiap pagi di momen akhir pekan.
Meski sempat vakum lantaran efek wabah Covid-19, Perdata kembali aktif seiring status pandemi dicabut. Komunitas tersebut masih eksis dengan membuka lapak di sejumlah bazar, misalnya acara tahunan Blitar Jadoel.
Dia berharap burung yang dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ini keberadaannya terus lestari. Tidak mengusik habitat hewan ini, sudah berkontribusi menjaga ekosistem pertanian.
"Burung hantu jangan ditembaki, jangan ditangkap. Kalau habis juga kasihan petani. Fungsi kami paling tidak untuk mengontrol supaya tidak terjadi perburuan," tandasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila