BLITAR-“Kekeringan saat kemarau, banjir saat musim hujan. Musibah ini adalah pengingat bahwa menjaga ekosistem hutan itu sangat penting,” celetuk Administrator KPH Blitar, Andy Iswindarto, saat membaca koran Jawa Pos di atas meja kerjanya Rabu (21/2/2024).
Berita tentang musibah banjir ini mengingatkan awal perjalan kariernya di Perum Perhutani pada 18 tahun lalu. Kala itu, Andy adalah fresh gaduate Fakultas Kehutanan IPB Bogor yang baru saja menerima tanda kelulusan.
Linier dengan bidang pendidikan, dia mencoba peruntungan menjadi pegawai pemerintah yang kantor dinasnya tidak jauh dari rumah, Sidoarjo. Sayangnya, ada beberapa dokumen yang belum dia miliki usai lulus dari kampus bergengsi ini. Alhasil, rencana bekerja di dinas kehutanan provinsi itu harus diurungkan.
Andy tidak menyangka peluang yang dia impikan muncul tiba-tiba. Nyaris berbarengan, Perum Perhutani juga membuka rekrutmen pegawai. “Tak kasih tahu ya, dulu menjadi pegawai BUMN itu jauh lebih diminati ketimbang menjadi pegawai negeri. Bahkan, Pak Jokowi yang juga lulusan kehutanan (UGM, Red) juga pernah melamar ke Perhutani,” ujar Andy sambil menyeringai bangga.
Tak semudah membalik telapak tangan. Setidaknya, ada lima tahap seleksi yang harus diikuti Andy untuk menjadi pegawai Perum Perhutani. Tahapan ini butuh waktu berbulan-bulan.
Sambil menunggu hasil seleksi yang menggunakan sistem gugur itu, Andy mencari pekerjaan lain. Tak kurang dari 3 bulan Andy nyambi bekerja sebagai buruh pabrik di wilayah Gresik. “Nganggur itu nggak enak. Waktu itu, saya diterima kerja di perusahaan kayu,” katanya.
Usai diterima di Perum Perhutani, Andy lantas mengajukan pengunduran diri dan mengawali kariernya sebagai staf di bidang perencanaan KPH Jombang.
Selang dua tahun, bapak dua anak ini bertugas di Kota Santri. Berikutnya, dia promosi menjadi Asisten Perhutani (Asper) di KPH Jember.
Kinerja Andy tampaknya mendapat apresiasi sehingga perjalanan kariernya juga lumayan cepat. Usai menjadi Asper KPH Jember, dia ditarik ke KPH Saradan. Selang 6 bulan berikutnya, dia diangkat menjadi Wakil Administrator KPH Saradan. Tiga tahun kemudian, Andy dimutasi ke KPH Kediri dan menjadi Wakil Administrator KPH Kediri Selatan.
Lebih dari 6 tahun, pria ramah ini menjadi penguasa hutan durian terluas se-Asia Tenggara. Meski karier strukturalnya tidak berubah, di tengah perjalanannya ada penyesuian golongan kepegawaian. Andy juga menikmati momen tersebut, eselonnya naik.
Setelah ikut menyukseskan peresmian Internasional Durio Forestry di Trenggalek, Andy ditarik ke manejemen pemasaran Probolinggo. Selang 14 bulan berikutnya, dia menjadi Kepala Perencana Hutan Wilayah (PHW) Madiun selama 10 bulan dan kini menjadi Administrator KPH Blitar.
“Selama pindah-pindah tugas, keluarga juga ikut. Tapi ketika anak-anak sudah mulai besar, kini keluarga di Jember,” ungkap Andy.
Pria keturanan Jawa-Madura ini mengaku, dedikasi dan integritas menjadi salah satu modal penting dalam bekerja. Begitu juga ketika pendapatan di awal bertugas belum sesuai dengan harapan. “Meski awalnya hanya ikut-ikutan, sejak SMP saya suka naik gunung dan menikmati alam yang asri. Itu juga yang menjadi motivasi sampai saat ini. Alam yang asri dan ekologi hutan harus tetap terjaga,” tegasnya.
Menurutnya, hal itu tidak semata sebagai tugas dan tanggung jawab pemerintah melalui perangkat kerjanya. Namun, masyarakat juga berkewajiban untuk aktif melestarikan alam demi masa depan. “Saya rasa sudah banyak teori dan materi tentang pentingnya hutan. Kini tinggal menunggu kesadaran masyarakat serta para stakeholder untuk memastikan paru-paru dunia ini aman,” imbuhnya.
Andy memaklumi hal itu menjadi tantangan besar. Sebab, pertumbuhan penduduk dan ketahanan pangan berimpitan dengan kepentingan pelestarian hutan. “Lagi-lagi, kebijaksanaan dibutuhkan dalam memaknai dan mengelola hutan,” tandasnya. (*c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila