BLITAR-Aroma tajam khas lem langsung tercium kala Jawa Pos Radar Blitar mendekati lokasi pembuatan kerajinan tangan. Beda dari yang lain, kreasi yang dibikin ibu-ibu dari berbagai kecamatan di Bumi Bung Karno ini memanfaatkan limbah tulang ikan. Meski terkesan nyeleneh, hasil akhir dari kerajinan ini memiliki nilai ekonomi yang lebih apik.
Pelatihan yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Tenaga Kerja (Dinkop, UKM, dan Naker) Kota Blitar ini berlangsung di salah satu hotel di Kecamatan Sananwetan, kemarin (22/2). Riuh dalam membuat kerajinan mewarnai di setiap prosesnya. Sekira 30 perempuan itu membunuh waktu, berhadap selesai tepat waktu.
“Aduh, lem belum kering. Ini tulangnya juga belum dilubangi, cepat-cepat harus cepat,” pekik seorang perempuan di ujung ruangan. Di meja lainnya, tulang-tulang ikan yang biasanya berakhir di tempat sampah pembuangan di Blitar, tak tampak seperti sampah. Justru bak kerajinan tangan yang estetik. Ada yang mengkreasikannya menjadi tangkai yang lengkap dengan desain menyerupai bunga, dan hiasan menarik lainnya.
Puluhan ibu-ibu tersebut merupakan anggota dari bank sampah di Kota Blitar. Mereka sudah terbiasa meladeni aroma yang tak sedap. Namun begitu, tidak semua limbah berakhir sia-sia. Tulang ikan pun kini menambah daftar Panjang jenis limbah yang berpotensi mendatangkan cuan.
Anggota Bank Sampah Lontar Berseri, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Widayati mengatakan, cukup tertarik melanjutkan kreasi tersebut.
Apalagi, setahu dia, tidak ada kerajinan di Kota Blitar yang mendaur ulang tulang ikan. Dia pun sempat menilai, mustahil jika tumpukan tulang-tulang itu disulap menjadi kreasi kerajinan.
“Tertarik, apalagi ada potensi bisa dijual. Cuma harus tahan sama aromanya. Bukan aroma tulang, tapi dari lem saat produksi,” lanjut perempuan 44 tahun ini.
Meski terbiasa membuat kerajinan dari botol minuman bekas, namun diakui Widayati bahwa pembuatan kreasi ini terbilang rumit. Bahkan hampir setiap prosesnya perlu ketelitian. Sebagai latar belakang, diperlukan triplek berukuran persegi.
Triplek kemudian diolesi lem khusus dan ditaburi pasir. Selanjutnya, masuk proses penjemuran di bawah terik matahari hingga kering. Papan tersebut diolesi lem untuk kali kedua, lalu dijemur ulang.
Untuk tulangnya, lanjut dia, bagian sirip dan ruas rusuk dipilah. Tulang rusuk ikan dihaluskan terlebih dahulu menggunakan amplas. Selanjutnya, dicat menggunakan warna natural.
Apabila sudah kering, dilubangi dan disambung menggunakan kawat agar terhubung antara kerangka satu dengan lainnya. ”Keterlibatan kami dalam pembuatan kreasi dari limbah ini cukup baik karena dari limbah yang masuk di bank sampah, bisa dikelola. Ini bisa kami tularkan ke tetangga yang mau belajar,” tuturnya.
Volume sampah di Kota Blitar setiap harinya mencapai 70 ton. Namun, jumlah itu meramping ketika masuk tempat pembuangan akhir (TPA). Pengurangannya sekira 25 ton per hari lantaran pemilahan di tingkat bank sampah.
Pemkot Blitar saat ini melakukan upaya diet plastik. Ini menjadi langkah yang secara umum dilakukan untuk menekan kuantitas limbah anorganik. Kios retail dan supermarket dianjurkan mengganti kantong plastik dengan kantong daur ulang.
Sayangnya, belum semua toko-toko menerapkan aturan ini. Untuk itu perlu dukungan seluruh pihak.
Penyuluh Perindustrian dan Perdagangan Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinkop, UKM, dan Naker Kota Blitar Amin Hartatik mengaku, bekerjasama dengan dinas lingkungan hidup (DLH). Sebab, seluruh peserta yang terlibat merupakan anggota bank sampah. Pihaknya berharap sektor UKM bisa naik kelas, sehingga mendongkrak kesejahteraan keluarga.
“Ini hal unik. Sekarang yang kebanyakan dicari adalah yang unik dan kreatif. Semoga ini bisa jadi sinyal baik agar UKM naik kelas,” tandasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila