BLITAR - Sebelum berkiprah di dunia politik, Wakil Wali Kota Blitar Tjutjuk Sunario lebih dulu terjun di dunia bisnis. Berkat semangat, kerja keras, dan diiringi tekad kuat, dia berhasil menduduki jabatan penting. Dia ingin generasi muda punya semangat wirausaha dan selalu kreatif.
Pria kelahiran Surabaya 1962 silam ini bukan sekadar politisi, melainkan juga pelaku bisnis. Jiwa berwirausaha sudah tertanam sejak muda. Lahir dari keluarga berkecukupan, Tjutjuk sempat diminta oleh orang tua untuk menjadi seorang pegawai negeri.
”Kala itu sempat mendaftar kuliah di IKIP (Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Red). Namun hanya tiga bulan. Kalau lulus mungkin bakal jadi guru,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, lantas tertawa.
Ya, Tjutjuk memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di IKIP. Hal itu, menurut dia, tidak sejalan dengan minatnya. Apalagi, dia tidak memiliki pandangan, bahkan keinginan menjadi seorang pegawai di kemudian hari.
”Memang, orang tua dulu selalu mengarahkan anaknya untuk menjadi pegawai negeri. Mereka menganggap jadi pegawai terjamin pendapatan dan kesejahteraannya. Kan dapat gaji tetap,” terang warga Kelurahan/Kecamatan Gayungan, Surabaya, ini.
Namun, Tjutjuk memantapkan hati untuk memilih jalan lain. Dia lantas melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 1985. Dia mengambil jurusan teknik sipil jenjang D-3.
Usai lulus dari kuliah, dia lantas melamar pekerjaan di perusahaan kontraktor. Proyek pertama yang dia kerjakan kala itu adalah membangun waduk.
Pengalaman berkesan saat itu, dia bekerja bersama tenaga ahli dari Jepang. “Di situ saya sekalian belajar bahasa Jepang, meski sedikit,” ungkapnya.
Singkat cerita, anak sulung dari dua bersaudara ini kembali melanjutkan pendidikan tinggi dengan jenjang S-1. Jurusan yang diambil masih sama yakni teknil sipil.
Usai lulus dari kuliah pada 1992, dia berhasil diterima bekerja di perusahaan kontraktor ternama yaitu PT Pembangunan Perumahan alias PP.
”Salah satu proyek yang pernah saya garap adalah Waduk Wonorejo di Tulungagung. Gaji saya waktu itu Rp 5 juta per bulannya. Saat itu tahun 1995,” beber suami dari Nyimas Nurul Choiriyah ini.
Tentu nominal gaji Rp 5 juta pada waktu itu lumayan besar. Bahkan, berkat gajinya yang besar tersebut, Tjutjuk dikenal oleh warga di kampungnya sebagai “orang kaya”. Bagaimana tidak, dia mampu membayar biaya pendidikan anaknya untuk setahun sekaligus.
“Ya, saya jadi omongan warga kampung,” ungkapnya. Seiring waktu, Tjutjuk memutuskan untuk keluar dari zona nyaman.
Dia ingin mengembangkan potensi lain, khususnya di sektor perdagangan. Baginya, berdagang merupakan salah satu jenis usaha yang perlu ditekuni.
Lalu, mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) ini mengembangkan usaha yang bergerak di bidang konstruksi di Surabaya.
Pasar yang disasar adalah perumahan dan properti. Hingga kini, usahanya terus berkembang. ”Barulah sekitar 2014, saya terjun di dunia politik dengan menjadi
anggota DPRD. Karena menurut saya, dengan menjadi anggota legislatif, saya bisa menyalurkan aspirasi masyarakat,” tuturnya.
Kepada generasi muda, Tjutjuk berpesan untuk menjadi pemuda yang kreatif dan inovatif. Apalagi di era perkembangan informasi dan teknologi yang makin masif seperti saat ini.
”Intinya, pemuda harus kreatif dan berani menjadi pelaku usaha serta bisa membuka lapangan kerja. Jangan terus-terusan berebut melamar pekerjaan,” tandasnya. (sub/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila