Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Batik Jagadjowo Asli Blitar yang Penuh Filosofi, Motif Tutur Banyak Diminati, Tingkatkan Literasi Sejarah

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 26 Februari 2024 | 15:50 WIB
TELATEN: Eni Setyawati sedang  melakukan produksi batik di tempat  usahanya.
TELATEN: Eni Setyawati sedang melakukan produksi batik di tempat usahanya.

BLITAR - Dibalik motifnya yang unik, batik Jagadjowo asal Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini punya makna loso mendalam. Karena setiap batik yang dibuatnya ada cerita di dalamnya, yang tidak banyak orang ketahui.

Perajin batik Jagadjowo Eni Setyawati, mengatakan motif batik karyanya punya hubungan erat dengan nilai sosial-budaya Blitar. Motivasinya, menghadirkan nuansa literasi seni dan sejarah. 

“Itu yang saya harapkan bisa membumi dan menjadi sumber literasi bagi generasi muda,” tutur Eni. Bukan hanya memasukkan unsur-unsur filosofis, Eni juga memasukkan motif unsur alam dan budaya dalam goresan batik miliknya. Misal, hewan, tumbuhan, hingga ikon Kabupaten Blitar berupa Candi Penataran. 

Harapannya bisa menambah kesan historis dalam batik miliknya.“Saya menilai anak-anak sekarang kurang mengetahui sejarah yang ada di tempat kelahirannya.

Maka dari itu, batik yang saya buat nantinya dapat menarik rasa penasaran dengan sejarah. Sehingga tidak sekadar fesyen saja,” terang Eni sembari menunjukkan karyanya.

Di sela perbincangan dengan Koran ini, Eni mempraktikan proses pembuatan batik. Pertama, dia mengoles kain batik berwarna putih yang telah bermotif dengan kuas secara perlahan. Olesan itu jelas membuat perbedaan pada kain batik. 

Alhasil, kain menjadi berwarna terang dan mencolok. Eni mengungkapkan, produksi batik dimulai pada 2012 lalu.

Keinginan ini muncul usai dia menjadi salah satu peserta dalam kelompok membatik di PKK di lingkungannya.

Meski mengaku sempat melakoni usaha bordir kain, kecintaannya pada seni membuatnya beralih menekuni usaha batik. 

“Sejak ikut kelompok batik ibu PKK itu, akhirnya saya menekuni kerajinan batik sampai sekarang, dan menjadi sumber penghasilan,” kata dia.

Adapun harga kain batik dipatok beragam. Batik cap berada di angka Rp 100-250 ribu per lembar. Batik kombinasi dibanderol seharga Rp 300-500 ribu. Kemudian, batik tulis dibanderol sekitar Rp 500 hingga Rp 2 juta per kain.

“Untuk peminatnya kebanyakan dari lokal Blitar. Kalau luar kota ada beberapa daerah di Jawa Barat yang sudah langganan.

Bahkan, ada pemesan batik dari Hongkong. Itu yang membuat saya senang karena produk ini dikenal hingga mancanegara,” jelas Eni.

Motif tutur jadi motif yang paling banyak diburu pembeli. Motif ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Dia mendapat motif ini dari rekan dekatnya usai melalui perbincangan panjang soal nilai-nilai filosofis.

“Motif merak pada batik tutur menunjukkan sebuah kesombongan. Lalu, motif singa pada batik tutur melambangkan sebuah kekuasan. Itu semua penuh dengan nilai filosofi,” pungkasnya. (jar/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#blitar #batik