BLITAR - Bumi Penataran menjadi langganan kasus infeksi virus dengue (IVD). Meski tidak ada korban jiwa, sedikitnya 190 kasus IVD ditemukan sepanjang awal tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati mengatakan, tren peningkatan kasus IVD ini diketahui sejak November 2023. Yakni, 51 kasus dan 58 kasus pada Desember. Kondisi kian parah di awal tahun 2024. Pada Januari totalnya hampir 200 kasus.
Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu di periode yang sama di Kabupaten Blitar. Sebab, pada Januari 2023 lalu, jumlah penderita IVD hanya 107 orang. “IVD itu ada tiga macam. Demam dengue yang hanya bergejala demam, lalu ada demam berdarah dengue (DBD), dan dengue shock syndrome (DSS). Syukurnya hingga kini tidak ada yang sampai mengalami DSS,” ujar Christine.
Dia melanjutkan, tren kenaikan kasus IVD ini sudah ditemui sejak dua tahun terakhir. Pada 2021 ditemukan 140 kasus. Namun, jumlah tersebut naik drastis pada 2022 yakni 390 kasus. Parahnya, kondisi ini naik signifikan pada tahun berikutnya. Tercatat ada 666 kasus IVD sepanjang 2023.
Penderita IVD ini merupakan orang dewasa atau produktif dan anak-anak. Namun, mayoritas pasien IVD adalah usia produktif. Hampir semua kecamatan ada pasien IVD. Artinya, tidak ada daerah khusus yang mendominasi kasus tersebut. Meskipun belum sampai meninggal dunia, beberapa pasien harus dirawat di rumah sakit.
Ada berbagai faktor penyebab meningkatnya kasus IVD di Kabupaten Blitar. Salah satunya adalah cuaca buruk yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Anomali cuaca membuat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti menjadi lebih cepat. Kedua, kurangnya perhatian warga terhadap kebersihan lingkungan sekitar sehingga jentik nyamuk Aedes aegypti leluasa untuk berkembang biak.
“Kami memang telah melakukan upaya pencegahan IVD dengan fogging atau pengasapan. Langkah ini hanya menghilangkan nyamuk waktu itu saja. Hal itu tidak akan efektif bila warga Kabupaten Blitar tidak melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri,”ungkapnya.
Christine menyatakan, PSN kini sering dilupakan oleh masyarakat. Akibatnya, lingkungan yang kurang sehat itu mengundang nyamuk dan mengakitbatkan IVD.
Dia mengakui bahwa masyarakat sering meminta fogging atau pengasapan. Padahal, kegaiatan ini tidak bisa mematikan jentik nyamuk. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila