BLITAR - Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) belum juga tuntas. Dinas peternakan dan perikanan perketat pengawasan usai temuan kasus hewan mati akibat PMK di Pasuran. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakkan Kabupaten Blitar, Nanang Miftahuddin mejelaskan, pihaknya sudah berkoodinasi dalam rangka peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman ini.
Salah satu solusi yang ditawarkan aparatur daerah ini ialah pembuatan surat edaran yang diserahkan ke kecamatan dan desa di Kabupaten Blitar. Diharapkan dengan langkah ini vaksinasi wabah PMK dapat berlangsung lebih cepat.
“Karena sudah ada informasi dari pusat, kita segera menggerakan lagi. Tujuannya agar segera terdeteksi ketika ada kasus di lapangan, sehingga petugas bisa segera menindaklanjuti. Dengan cara ini risiko yang ditimbulkan wabah dapat segera dibatasi,” jelasnya.
Informasinya, jumlah ternak berkaki belah di Kabupaten Blitar sekitar 341 ribu ekor. Namun hanya sekitar 70 persen ternak yang sudah tervaksin.
Kondisi ini dinilai cukup membahayakan ekonomi masyarakat. Meski tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia, kematian ternak otomatis menimbulkan kerugian.
Nanang mengatakan, vaksinasi telah dilaksanakan hampir seluruh desa. Meski begitu, dia tidak membantah bahwa masih ada sebagian ternak yang belum tervaksinasi.
Tahun ini, vaksinasi tahap pertama sudah menyasar 36.653 ekor, tahap kedua 23.643 ekor, dan tahap ketiga 8.186 ekor. Itu terdiri dari sapi, kambing, domba, kerbau dan babi. Sedangkan rusa yang juga hewan berkaki belah belum divaksin.
“Sampai hari ini kita masih belum ada laporan terkait adanya wabah PMK yang menjangkit ternak warga. Ini merupakan indikasi bahwa vaksinasi yang dilakukan pemerintah ini sukses,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nanang juga sudah berkoordinasi ke tim disnakkan agar vaksinasi di Kabupaten Blitar bisa lebih dimaksimalkan. Bahkan hingga kini beberepa tim sudah diterjunkan untuk melaksanakan vaksinasi.
Sedangkan untuk mencegah penyakit dari proses tranfer hewan dari satu wilayah ke wilayah lain. Nanang mengaku bakal meningkatan pengawasan lalu lintas hewan. Selain itu, dia juga berupaya melakukan pengetatkan pasar-pasar hewan.
“Namun untuk merealisasikan ini kita ada sedikit masalah. Soalnya untuk pengawasan atau monitoring di jalan kita tidak memiliki vasilitas cek poin. Selain itu, kita tidak bisa bertindak sendiri.
Sedang untuk pengetatan pasar, kami tidak bisa berbuat banyak juga. Soalnya untuk pengelolaan pasar hewan ini dikelola oleh tiga lembaga. Yakni, disnakkan, disperndang, dan desa,“ ujarnya.
Dia menyebut, pasar hewan paling banyak dikelola oleh desa. Disnakkan hanya mengelola dua pasar hewan yalkni Wlingi dan Srengat. Sedangkan Pasar Sutojayan dan Kesamben di kelola oleh disperindag, “Biasanya pasar hewan itu satu lingkup dengan pasar umum,” jelasnya.
Karena banyaknya pasar yang tidak dikelola langsung oleh disnakkan, yang bisa dilakukanya hanya pengawasan atau monitoring dan memberi saran.
Nanang mengungkapkan, solusi paling ampuh untuk menangkal virus PMK adalah dengan dipping dan spraying. Sejauh ini hanya pasar milik disnakkan yang memiliki tambahan vasilitas dipping dan spraying.
Selain itu di pasar milik disnakkan juga memiliki tenaga kesehatan hewan yang bertugas untuk mengecek dan mengontrol hewan yang masuk ke pasar. (mg2/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila