BLITAR - Peredaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Blitar masih terhambat dalam pemasaran. Terutama dalam meraup pelanggan di pasar modern. Hal itu lantaran kalah bersaing dengan produk olahan pabrik.
Meski demikian, produk UMKM masih laris di pusat oleh-oleh di dalam dan luar daerah. “Produk (UMKM) Bumi Penataran terlaris berada di pusat oleh-oleh. Jika UMKM masuk ke pasar modern itu sudah dapat menaikkan brand,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UM) Kabupaten Blitar, Sri Wahyuni.
Mayoritas, kata dia, produk olahan tersebut masuk ke berbagai wilayah. Yakni, Semarang, Salatiga, Boyolali, Solo, Purworejo, Magelang, dan Jogjakarta.
Untuk wilayah Jawa Timur (Jatim), produk olahan lokal biasanya dikirim ke Batu, Malang, Jember, Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Adapun berbagai produk dikirim ke berbagai lokasi tersebut. Misalnya, jenang, opak gambir, geti, kripik singkong, dan cokelat.
“Kami terus mengupayakan agar produk UMKM bisa laris di pasaran. Itu dalam rangka pemasaran. Kini masih dalam proses kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Dia mengaku bahwa pemasaran UMKM ini secara government-to-government masih sedikit. Biasanya kalau dikerjasamakan antardaerah itu berpotensi besar. Termasuk jagung dan telur.
Untuk itu, dinasnya bekerja sama dengan cara business-to-business. Bahkan dari kinerja pemerintah ini, diketahui ada 165 UMKM sudah naik kelas.
“165 UMKM bisa naik kelas karena produk olahannya sudah dikerjasamakan dengan luar daerah,” jelasnya.
Dia menambahkan, akhir-akhir ini pemasaran online juga efektif karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka.
“Kami memiliki data pada 2022, ada 31.275 UMKM. Di akhir 2023, ada sekitar 34.694 UMKM. Itu sudah ada peningkatan.
Maka, kami sekarang ini sudah mulai melengkapi data lagi agar ketahuan bagaimana pertumbuhan UMKM di kabupaten,” ujarnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila