BLITAR - Selama tiga hari, 20 finalis Duta Wisata Kangmas Diajeng Kota Blitar 2024 menjalani masa karantina. Jumat (1/3/2024) merupakan hari terakhir. Masa karantina menjadi tahapan penting dalam penilaian para finalis. Ada empat kriteria yang dinilai, yaitu brain, beauty, behaviour, dan brave.
Selama masa karantina tersebut, para finalis kangmas diajeng mendapat bekal materi seputar pariwisata, ekonomi kreatif, nasionalisme, hingga konsep Tri Sakti Bung Karno. Masing-masing finalis juga memaparkan ide-ide kreatifnya.
”Alhamdulillah, di hari kedua masa karantina, semua berjalan lancar. Para finalis mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik. Dan, besok (hari ini, Red) adalah hari terakhir menuju grand final,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Blitar, Rita Triana, kepada Jawa Pos Radar Blitar Rabu (29/2/2024).
Rita menjelaskan, pemilihan duta wisata kangmas diajeng merupakan program rutin Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar yang melibatkan anak muda. Pemkot ingin para duta wisata pilihan tersebut menjadi ujung tombak dalam mengenalkan city branding Kota Blitar secara meluas.
”Intinya mempromosikan bahwa Kota Blitar merupakan kota pariwisata dan ekonomi kreatif. Terutama sebagai kota kebangsaan dan nasionalisme,” ungkapnya.
Selama ini, lanjut dia, Kota Blitar dikenal dengan kota sejarah dan kota wisata religi. Namun, kini telah berkembang menjadi kota wisata kebangsaan dan ekonomi kreatif.
”Nah, melalui duta wisata ini promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Blitar bisa semakin gencar. Apalagi dengan adanya perkembangan informasi teknologi yang memudahkan itu semua,” ujarnya.
Nah, keterlibatan anak-anak muda dalam dunia pariwisata dan ekonomi kreatif sangat penting. Sebab, dalam sejarah, anak muda selalu menjadi motor penggerak perubahan di berbagai bidang. Salah satunya berupa bidang pariwisata serta ekonomi kreatif.
Seperti diketahui, kurun waktu beberapa tahun terakhir ini anak-anak muda termasuk penggerak ekonomi kreatif. Perkembangan media sosial (medsos) yang masif menjadi senjata ampuh anak-anak muda dalam menumbuhkan sektor ekonomi kreatif.
”Buktinya bisa kita lihat pascapandemi Covid-19. Dinamika di sektor pariwisata, ekonomi kreatif tumbuh pesat. Muncul gerai atau kafe-kafe yang dikelola oleh anak muda,” tuturnya.
Nantinya, para kangmas diajeng ini akan diterjunkan di wilayah-wilayah Kota Blitar. Tujuannya agar duta pariwisata tersebut ikut terlibat di sektor ekonomi kreatif, khususnya dalam basis terkecil di lingkungan masyarakat. Kangmas diajeng itu bisa membantu pada bidang promosi dan publikasi.
Apalagi, anak-anak muda punya kemampuan lebih dalam memanfaatkan medsos. Terbukti bahwa penggunaan medsos cukup efektif dalam mempromosikan suatu produk milik pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
”Ada value lebih ketika mereka bisa masuk ekonomi kreatif di masyarakat dan memanfaatkan media sosial. Salah satu contoh yang sudah dilakukan anak-anak duta wisata yakni turun di perajin Batik Sendang Lestari (Kelurahan Bendogerit), Kampung Cyber (Kelurahan Gedog), hingga Kampung Jaranan (Kelurahan Blitar). Hasilnya sangat dirasakan pelaku usaha,” terang Rita.
Para duta pariwisata yang telah terpilih diharapkan mampu terlibat dalam mempromosikan kegiatan ekonomi kreatif di masyarakat. Anak-anak muda tersebut bisa terjun langsung ke pelaku usaha dengan menjadi solusi pemasaran.
”Misi utama kami adalah menjadikan mereka (kangmas diajeng) sebagai brand ambassador parekraf,” tandasnya. (sub/c1)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila