BLITAR - Jalan yang terjal, berlumpur dan licin tidak mempengaruhi langkah kaki para prajurit berbaju doreng siang Kamis (29/2/2024). Menelusuri jalanan menanjak dan curam sambil membawa bahan bangunan tidak membuat langkah mereka goyah. Tak ada yang menyerah ataupun mengeluh, senyum semringah menunjukan bahwa semangat mereka tetap membara dalam membantu masyarakat di Kabupaten Blitar mewujudkan harapan.
Dalam kurun waktu sebulan, tercatat ada poin yang harus dikerjakan dalam TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Yakni, membangun rumah tidak layak huni (RTLH), memperbaiki tempat ibadah, membangun akses jalan, membangun sabo dam dan membangun tandon-tandon air.
“Target kami menyelesaikan 15 RTLH, 5 tempat ibadah, rabat jalan sepanjang 1 kilometer, pengadaan tandon air dan pembuatan sabo dam,” ujar Pasi Ter Kodim 0808/Blitar, Kapten Arh Kusdiarto Kamis (29/2/2024).
Jalan sepanjang 1 km tersebut memang bukan jalur utama. Namun, itu menjadi akses atau jalan tembus yang memudahkan mobilitas masyarakat menuju lahan pertanian.
Dengan begitu, akses jalan ini sangat penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat. “Tentu saja, dengan akses yang baik memudahkan masyarakat beraktivitas,” katanya.
Selain kegiatan fisik, ada beberapa aktivitas lain yang dikerjakan selama kegiatan TMMD. Misalnya sosialisasi, bela negara, serta pelatihan beberapa pelatihan dalam penguatan ekonomi masyarakat.
“Dinas koperasi dan UMKM, dan beberapa organisasi perangkat daerah lainnya juga ikut memberikan edukasi kepada masyarakat dalam kegiatan TMMD ini,” tuturnya.
Kusdiarto mengaku bersyukur terlibat langsung dalam kegiatan ini. Meski bukan hal baru bersinggungan dan membantu warga, ada tantangan berbeda dalam kegiatan TMMD.
Membuka dan memperbaiki akses jalan yang memudahkan masyarakat menjadi bagian yang tidak mungkin dia lupakan. “Membantu memperbaiki hunian, tempat ibadah sehingga warga bisa lebih nyaman dan tenang,” ucapnya
Di lokasi yang sama, Kepala Desa Wonotirto, Imam Mucharom mengungkapkan bahwa kegiatan TMMD di desa yang dipimpinnya sangat membantu warga. Dalam momen yang singkat tersebut, dia menceritakan kekompakan masyarakat saat gotong royong membangun bersama para prajurit.
“Di sini itu ada satu jalan penghubung antara Dusun Caren dan Dusun Gebang yang memiliki medan sulit, licin dan menanjak. Karena terkendala medan ini, biasanya mayarakat memilih memutar arah yang memang lebih jauh. Selain itu jaraknya juga cukup jauh, dengan adanya TMMD ini kami sangat terbantu,” jelasnya.
Tidak hanya jalan, ternyata di desa ini masih ada masyarakat yang memiliki rumah dengan kondisi tidak layak huni. Dari 15 rumah dindingya ada yang terbuat dari papan, kalsiboard, dan bahkan ada yang hanya berlapis terpal. Tipisnya pelapis ini tentunya mengakibatkan hawa dingin malam hari, selalu dirasakan warga Wonotirto.
Namun kini dia bersyukur, para prajurit ini merubah ekspersi warga. Warga tampak semringah dan tersentuh saat melihat rumah miliknya yang kini berdinding tebal.
Air juga menjadi permaslah di dua dusun di desa itu, terutama saat musim kemaru. Hampir setiap hari warga harus naik turun bukit untuk mengambil air dari sungai. Kondisi ini juga menjadi tantangan tentara saat membangun tandon air dan saluran pipa untuk dialirkan ke rumah warga.
Meski tubuh dipenuhi oleh lumpur dan keringat mengucur, antusias tentara dalam memenuhi harapan masyarakat masih tetap tinggi. “Mudah-mudahan hingga kegiatan ini berjalan lancar hingga selesai nanti,” tandas Mucharom. (mg2/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila