BLITAR - Desain interior ruangan kurang lengkap tanpa hiasan dinding. Kerajinan seni kriya makrame bisa jadi salah satu solusi alternatif mempercantik ruangan. Di Blitar, bisa ditemukan perajin ini.
Makrame atau kerajinan menyimpul tali banyak digandrungi masyarakat. Bisnis ini semakin menguntungkan, utamanya menjelang bulan Ramadan.
Seperti dilakoni Jeny Merysa, warga Dusun Sumberejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Perempuan 30 tahun ini memulai usaha kerajinan tangan makrame sejak 2018 lalu.
Kebanyakan pembeli menyukai desain simpul yang sederhana, namun tampak indah.Ya, menyimpul merupakan poin mutlak sebuah makrame tercipta.
Bukan sekadar tali menali, melainkan perlu teknik khusus mengikat benang. Melalui simpul-simpul yang saling berkaitan itulah kesan estetika terlahir. “Daya tariknya memang pada tampilan.
Karena memang kebanyakan orang familiar kalau makrame hanya untuk pajangan. Padahal multifungsi, sesuai model makrame yang kami buat,” ujar perempuan tersebut, Sabtu (2/3).
Ada berbagai jenis makrame yang diproduksi perempuan penghobi mendaki gunung ini. Misalnya, makrame tirai, pembatas ruangan, bingkai gantungan cermin, ambalan, gantungan kunci, tatakan barang, hingga makrame penangkap mimpi (dream catcher).
Meski mengandalkan teknik simpul yang dapat memanjakan mata, tetap perlu ketelitian dalam memproduksinya.
Ibu rumah tangga ini menggunakan benang katun yang dibentuk sedemikian rupa. Untuk hiasan dinding, terkadang dia menambahkan desain daun dari serat-serat benang, menyesuaikan keingingan pembeli.
“Yang setiap hari ikut bantu-bantu ada sekitar 11 ibu-ibu. Kalau produksi kami macam-macam dalam sehari.
Tetapi khusus makrame hiasan dinding, biasanya memakan waktu kurang dari 2 jam, bisa ditunggu,” lanjut perempuan kelahiran 1993 silam ini.
Majunya teknologi dan informasi, membuatnya turut menggencarkan pemasaran via media sosial (medsos).
Peminatnya pun makin meluas. Seperti lintas provinsi bahkan mendunia sampai Malaysia, Singapura, Turki, dan lainnya.
Pernik ini dibanderol mulai dari Rp 5 ribu-Rp 900 ribu, sesuai ukuran dan permintaan. Kini, banyak kedai-kedai kopi dan kafe kenamaan kepincut kreasi bikinannya.
Rata-rata omzet yang didapat dalam sebulan pun mencapai sekira Rp 50 juta.“Bisnis apapun bisa jalan asalkan kita tak kurang akal untuk memasarkannya.
Saya masih akan terus bikin inovasi-inovasi seputar kerajinan tangan makrame ataupun kayu,” tandasnya. (luk/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila