Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Berikut Tips Konsisten Dongeng untuk Anak, Bisa Latih Motorik dan Jalin Komunikasi dengan Orang Tua

Mila Inka Dewi • Senin, 4 Maret 2024 | 21:30 WIB
KASIH SAYANG: Orang tua harus pandai improve untuk membacakan dongen ke anak. Selain itu perlu buku bacaan yang tepat sebagai pilihan
KASIH SAYANG: Orang tua harus pandai improve untuk membacakan dongen ke anak. Selain itu perlu buku bacaan yang tepat sebagai pilihan

BLITAR - Dongeng memiliki banyak manfaat untuk perkembangan anak. Selain melatih sensor motorik bisa membangun kedekatan atau komunikasi dengan orang tua.

Dalam memilih dongeng atau bacaan harus disesuaikan dengan usia anak. Usia SD dibedakan kelas bawah kelas 1-3 SD dan kelas atas 4-6 SD.

Untuk anak kelompok bermain, pas untuk memulai mendengarkan dongeng. “Tapi kalau usia anak-anak jangan berisi materi yang terlalu berat. Biasanya disertai dengan gambar-gambar yang menarik,” jelas psikolog Agustina Dwi Rahmawati. 

Selanjutnya, terkait pemilihan buku. Untuk usia PAUD pilih buku yang kecil dan punya kertas yang tebal. Sebab anak usia 2-3 tahun masih suka merobek sesuatu. Isi buku hanya memiliki beberapa halaman dan banyak gambar. 

“Cara mendongeng, orang tua harus pandai berekspresi dan improvisasi. Karena usia anak-anak kalau hanya cerita secara monoton pasti gampang bosan,” bebernya. 

Agustina menambahkan, isi bacaan atau materi juga harus disesuaikan. Misalnya, ada kesimpulan isi cerita yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pilih buku yang punya rangkuman singkat atau kesimpulan di akhir cerita.

Meski anak belum bisa membaca, dongeng sebelum tidur bisa menjalin komunikasi antara orang tua dengan anak sebelum tidur. Selain itu, dengan mengenalkan buku sejak dini bisa melatih sensori motorik. 

Bisa melatih anak belajar berekspresi dan mengenal kosa kata ringan. Sehingga, ketika memasuki usia sekolah atau taman kanak-kanak (TK) anak tidak kaget dan bisa cepat beradaptasi. 

“Kini ada buku yang berisi 365 halaman. Jadi bisa diceritakan setiap hari untuk setahun,” bebernya. Namun, biasanya permasalahan datang ketika orang tua tidak konsisten dalam mendongeng.

Biasanya, mereka akan semangat diawal mulai mendongeng. Tapi, lama kelamaan hanya mendongeng ketika ada waktu luang. Padahal mendongeng tidak harus dengan waktu yang lama. 

“Bisa 10-15 menit saja, yang penting konsisten. Itu yang biasanya sulit dilakukan,” tandasnya. Sementara itu, salah satu orang tua, Abdullah mengaku, jika untuk dongeng biasanya ketika anak anaknya akan tidur.

Dengan harapan mudah untuk bisa segera tidur dan kondisi anak memang sudah mengantuk. “Jadi waktu pas untuk mendongeng memang malam hari,” ujarnya.

Jika untuk materi dongeng memang tidak berat dan mudah dipahami. Minimal cerita tokoh yang sudah dikenal dan memiliki pesan moral. 

Dia menambahkan, ketika anak diajak membaca dongeng siang hari, maka sulit. Sebab pasti ingin bermain di luar atau mengunakan permainan yang dimiliki.(ink/din)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#dongeng anak