BLITAR - Mahasiswa di Kota Blitar mencoba peruntungan dengan memproduksi sabun batang. Bukan sabun biasa, melainkan varian kopi lengkap dengan toping biji kopi. Ini seakan menambah daya tarik konsumen lantaran beda dari produk serupa lainnya.
Meski masih mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi dan jadwal tugas yang padat, tiga mahasiswa Kota Blitar ini bisa meluangkan waktunya bikin inovasi. Yakni, sabun dengan varian biji kopi. Aroma semerbak dan tampilan yang unik jadi daya tarik produk bikinan mereka.
Trio mahasiswa ini adalah Rahmanto Adi, Yunita Chandra Lestari, dan Siska Wulan Febriani. Kreasi tersebut semula dibuat untuk mengikuti perlombaan di kampus. Namun, masih terus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pembeli yang gemar dengan sabun varian alami. "Kopi pada sabun ini hanya sebagai bahan pelengkap saja. Supaya ada varian. Dan, kopi sebetulnya juga punya manfaat untuk perawatan kulit," katanya, Minggu (3/3/2024).
Pembuatan sabun ini bukan hanya memenuhi tugas kuliah, atau perlombaan semata. Lelaki yang akrab disapa Opa Antok ini mengaku produksi sabun natural itu merupakan langkah kecil meminimalisasi pencemaran lingkungan. Sebab, penggunaan sabun berbahan kimia tak jarang membuat lingkungan tidak sehat untuk makhluk hidup lainnya.
Para mahasiswa jurusan Operasionalisasi Perkantoran Digital (OPD) Akademi Komunitas Negeri (AKN) Putra Sang Fajar ini mengaku pembuatan sabun tersebut tidak mudah. Proses awal, tak jarang menjumpai kegagalan. Seperti komposisi bahan baku yang kurang sesuai takaran, hingga berimbas pada tekstur sabun saat dipakai.
"Bahannya ada minyak, air destilasi, dan soda api. Kalau sabun selesai dibikin, dan sudah mengeras, didiamkan dulu sebulan atau curing. Supaya kandungan alkalinya hilang," imbuh warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo ini.
Sementara itu, Siska, mahasiswa warga Desa Ngeni, Kabupaten Blitar menyebut bahwa pada percobaan pembuatan kali pertama, bisa dibilang kacau balau.
Pasalnya, kepadatan sabun belum sempurna. Separo sudah padat dan kering, sementara bagian lainnya justru masih lembek. Hal ini jadi catatan khusus sekaligus evaluasi saat produksi.
"Kemudian, masih terlalu kasar karena mungkin mencampurnya kurang lama, masih semacam scrub gitu. Teksturnya seperti pasir," jelas perempuan 21 tahun ini.
Kendati sempat gagal saat mulai produksi, hal itu dia nilai lumrah. Justru melalui kegagalan tersebut banyak tahap yang perlu diperbaiki lagi untuk mencapai kualitas sabun lebih baik.
"Alhamdulillah, sudah ada yang jadi dan enak untuk kulit. Saya handel pada bagian pemasaran, jual via media sosial (medsos)," jabarnya.
Yunita, warga Desa Banggle, Kecamatan Kanigoro ini menambahkan, rencananya sabun akan terus diproduksi. Namun, dia menyadari merintis bisnis UMKM tidaklah mudah, apalagi ketika membahas modal. "Inginnya begitu. Tapi harus realistis bahwa biayanya yang diperlukan tidak sedikit," tambahnya.
Untuk sementara, sabun diproduksi selama sekali dalam dua pekan. Waktu ini sudah cukup ideal, lantaran harus menunggu masa curing rampung. Kini sabun tersebut jadi primadona di kalangan konsumen mayoritas anak muda. Satu buah sabun dibanderol Rp 15 ribu.
"Sambil jalan kuliahnya, sudah semester akhir juga. Tapi ke depan, kami coba dengan berbagai varian natural," pungkasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila