BLITAR - Hozena Eljoann Libby, remaja 13 tahun ini tetap semangat melakoni dancesport. Meski memiliki keterbatasan dalam mendengar, dia berhasil meraih prestasi membanggakan.
Olahraga Dancesport identik dengan musik dan gerakan layaknya dansa. Namun, Libby sapaan akrab Hozena Eljoann Libby tetap bisa berlenggok di lantai dansa meski memiliki keterbatasan pendengaran. Dia menggunakan alat bantu dengar sehingga bisa mengikuti alunan musik.
Tak merasa minder, Libby justru semangat untuk membuktikan kemampuan layaknya anak-anak seusianya. Sejak kelas 5 sekolah dasar (SD) hingga kini duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Libby masih aktif dancesport. Siswi kelas 2 SMP ini mengalami penurunan syaraf pendengaran sejak kelas 1 SD.
Namun, alat dengar yang dipakainya sejak kelas 3 SD membantu pendengarannya. "Karena saya suka dengan musik dan menari," katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Senin (4/3/2024).
Menurut dia, tantangan dalam olahraga dancesport lebih ke arah fisik. Sebab, tenaga bisa sampai terkuras habis. Pasalnya, gerakan dance memanfaatkan semua anggota tubuh. Sehingga, banyak menguras tenaga.
Sebelum memakai alat bantu dengar atau ketika mengalami penurunan pendengaran, Libby hanya bisa mengenali alunan musik lewat ketukan, lantas mengikutinya. Namun, ketika dipanggil tidak terlalu bisa mendengar.
Sejak saat itu, oleh orang tua didaftarkan sekolah musik dan menari. Kala itu dia melihat potensi dan bakat menari yang ada pada Libby. Apalagi, sejak kecil memang menyukai dance.
Meski begitu, sempat terbesit keinginan untuk menyerah. Apalagi ketika ikut lomba, pasti intensitas latihan selalu bertambah. Ketika ikut porprov tahun lalu, latihan bisa 5-6 kali. Dengan durasi 3-4 jam sehari. "Apalagi kalau sudah capek-capek latihan, ternyata tidak dapat juara," keluhnya.
Meski dengan keistimewaan yang ada, sudah banyak prestasi yang berhasil diraih. Baik dalam skala regional maupun nasional. Pernah juga mengikuti kejuaraan di Filipina. Terbaru, dia ikut ajang Porprov 2023 lalu. Dia berhasil membawa pulang juara kedua atau medali perak.
Sementara itu, sang Ibu, Anne Ismaya Norita, menambahkan terus mendukung potensi Libby. Sebab, dengan kekurangan itu dia masih punya kelebihan dan potensi dalam dance. Meski, ada beberapa kekhawatiran tersendiri.
"Terutama jika anak sudah lelah menjadi tidak nafsu makan. Jadi asupan gizinya otomatis berkurang," jelasnya.
Orang mengakui bahwa di bidang akademik Libby memang kurang bisa maksimal. Mengingat keterbatasan Libby dalam pendengaran sehingga sulit mendapatkan nilai yang sempurna. Berbeda dengat bakat dancesport yang bisa meraih banyak kejuaraan.
Dukungan keluarga terhadap Libby terus diberikan. Hal itu membuat Libby makin bersemangat dalam menghadapi kompetisi.
"Tuhan pasti punya rencana untuk setiap anak-anak. Saya bersyukur ketika Libby mengalami penurunan pendengaran, dia tumbuh di lingkungan pertemanan yang tidak pernah mem-bully. Jadi secara kejiwaan dia bisa bertumbuh dengan baik,” tuturnya.
Kini, Libby tidak terlalu pusing atau minder dengan kondisi pendengarannya. ”Dia tetap percaya meski dengan kekurangan yang dimiliki," imbuhnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila