BLITAR – Bulan suci Ramadan tinggal menghitung hari. Bukan hanya mempersiapkan menu takjil dan sahur, bedug masjid maupun musala pun turut bersolek demi menyambut momen setahun sekali itu.
Bedug, kentongan, dan rebana menjadi perlengkapan yang banyak dicari menjelang ramadan. Bukan hanya pembuatan produk baru, biasanya juga ramai permintaan servis rebana maupun bedug yang rusak. Maklum, menyambut bulan suci semua harus disiapkan semaksimal mungkin.
Seperti dialami oleh Slamet Daroini, salah satu perajin bedug Kota Blitar. Warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul ini mengaku menjelang puasa ramai pesanan kentongan hingga servis bedug. Bagian yang selalu rusak adalah kulit bedug. Mayoritas berlubang atau kendor.
Kerusakan terjadi diduga karena efek pukulan kencang hingga faktor kayu pemukul. “Kebanyakan yang rusak memang bagian kulit. Ada juga beberapa yang kayunya keropos,” katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (6/3/2024).
Kayu jenis akasia, lanjut dia, dipilih karena lebih awet daripada kayu jati. Ketika memakai kayu akasia dengan harga yang sama seperti kayu jati, akan lebih awet kayu akasia. Namun, sejatinya pemesanan bedug bisa disesuaikan dengan budget yang dimiliki. Semakin mahal, tentu kualitas yang dihasilkan akan semakin bagus.
Pria 37 tahun ini mengaku mengawali bisnis kerajinan bedug sejak pandemi Covid- 19 atau akhir 2019 lalu. Namun, jauh sebelum itu sudah aktif membuat rebana sejak 2012. Sebelumnya, dia menjadi karyawan di bidang serupa. Yakni, di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul.
Seiring berjalannya waktu, dia membuka usaha sendiri. “Tapi ketika di rumah juragan banyak pesanan saya tetap ikut membantu di sana. Seperti simbiosis mutualisme,” beber Roni, sapaan akrabnya.
Mendekati puasa ini biasanya pesanan naik hingga dua kali lipat. Misalnya, ketika dalam sebulan menerima satu atau dua pesanan pembuatan bedug, menjelang ramadan bisa dua sampai tiga pesanan.. Ketika, mengerjakan pesanan di rumah juragan, dalam sehari bisa menghandle 2-3 bedug.
Pembuatan bedug biasanya baru dikerjakan satu bulan setelah pembayaran. Baik uang muka atau pelunasan. Proses pembuatan dilakukan by order atau pesanan sehingga tidak ada stok barang jadi.
Untuk bedug ukuran kecil membutuhkan waktu 2-3 minggu. Sedangkan untuk bedug ukuran besar paling cepat bisa satu bulan pengerjaan. Tergantung diameter dan ornamen yang dibuat. Selama pengerjaan Roni dibantu dengan 3 orang pekerja yang merupakan warga sekitar.
Roni biasa melayani servis bedug bukan hanya dari Kota Blitar, tapi juga luar daerah. Paling jauh adalah Jombang. Sementara untuk servis terbanyak lokal. Terbaru, dia menerima pesanan kentongan untuk Masjid Ar-Rahman.
“Kebanyakan memang servis. Dulu pernah ada satu orang yang pesan baru. Karena bedug lumayan awet, jadi kebanyakan menjelang puasa pasti banyak permintaan servis bedug atau rebana,” tandasnya. (*/sub)
Editor : Doni Setiawan