Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cuaca Ekstrem Melanda Kabupaten Blitar hingga Akhir Bulan Ini

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 8 Maret 2024 | 21:30 WIB
PERALIHAN CUACA: Pengendara motor mengenakan jas hujan saat melintas di jalan nasional wilayah Kecamatan Garum, kemarin (5/3).
PERALIHAN CUACA: Pengendara motor mengenakan jas hujan saat melintas di jalan nasional wilayah Kecamatan Garum, kemarin (5/3).

 

KABUPATEN BLITAR – Potensi bencana hidrometeorologi diprediksi bisa terjadi hingga akhir Maret. Sebab, saat ini Jawa Timur sudah mulai fase peralihan dan akhir musim penghujan. Terbukti curah hujan tinggi melanda Bumi Penataran dalam beberapa hari terakhir.

Hampir setiap hari hujan membasahi Bumi Penataran, seperti yang terjadi pada Rabu (5/3). Hujan ringan terjadi selama kurang lebih setengah jam sehingga membuat sebagian masyarakat yang berkegiatan di luar rumah terpaksa memakai jas hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blitar Ivong Bertyanto mengatakan, cuaca ekstrem yang berdampak bencana hidrometrologi diprediksi terjadi hingga akhir bulan ini. Terutama bencana angin kencang yang terjadi beberapa waktu lalu. Itu jika mengacu pada analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Untuk bencana angin kencang ini semua daerah rawan bencana. Sehingga bukan lagi pada daerah tertentu. Meskipun begitu, kami terus memperbarui informasi dari BMKG untuk prediksi cuaca di Kabupaten Blitar,” kata Ivong.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Meteolorogi Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, saat ini Jawa Timur telah memasuki fase peralihan akhir musim penghujan. Sebab, suhu muka laut di perairan Jawa Timur dalam kondisi hangat. Pada nilai anomali positif, kondisi ini berpengaruh terhadap curah hujan di Jawa Timur.

Cuaca ekstrem ini juga termasuk Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 4 dan 5. Dengan begitu, berkontribusi terhadap proses dan pola pertemuan belokan angin. Selain itu didukung dengan kondisi atmosfer yang labil dan lembap mulai lapisan bawah hingga atas.

Hal itu menyebabkan terjadinya penumpukan udara basah. Akibatnya, terbentuk awan-awan konvektif yang masif di wilayah Jawa Timur dan berdampak terhadap tingginya curah hujan, termasuk di Kabupaten Blitar.

“Maka dari itu, masyarakat harus mewaspadai potensi cuaca ekstrem. Hujan sedang hingga lebat diprediksi terjadi antara siang-malam yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometrologi. Seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung,” pungkasnya. (jar/c1/hai)

Editor : Doni Setiawan
#musim #curah hujan #hujan #Ekstrem #cuaca