BLITAR - Berkunjung ke kampung batik turi di Blitar pasti disuguhi pemandangan mural batik di sepanjang tembok gang masuk kampung.
Didirikan sejak 2 Oktober 2018, produksi batik di kampung tersebut terus bergeliat memberdayakan warga setempat.
Meskipun cuaca mendung, tak lantas menyurutkan semangat berkreasi ibu-ibu warga setempat.
Dengan kuas dan pewarnaan di tangan, mereka tampak cekatan menggoreskan lilin di kain. Ketua kelompok Batik Kembang Turi, Parianto, fokus mendampingi.
“Ya, ini awalnya karena ada lomba yang diadakan oleh Pemkot Blitar. Lomba Maya Juwita. Tiap kelurahan harus mengangkat potensi yang ada.
Akhirnya diputuskan mengembangkan kerajinan batik,” ungkapnya, menceritakan awal berdirinya kampung Batik Turi kepada Jawa Pos Radar Biltar, Sabtu (9/3/2024) lalu.
Pada lomba ini setiap kelurahan diwajibkan untuk menunjukkan keunggulan atau potensinya. Meskipun pada dasarnya kampung turi tidak memiliki sumber daya alam yang bisa diangkat.
”Kerajinan batik ini karena melihat pelatihan yang dulu sering dilakukan. Meskipun setelah pelatihan tidak ada follow up,” terangnya.
Setelah rembukan bersama perangkat kelurahan, akhirnya disepakati batik sebagai produk unggulan Kelurahan Turi.
”Berawal dari tuntutan, terlebih menjadi ketua, walhasil harus menekuni dan mencintai. Sebuah kelompok harus ada satu yang nguati, mendorong, memotivasi temen-teman yang baru mengenal batik, belajar batik,” tuturnya.
Antok sapaan akrabnya mengingat betul proses kelompok batik turi berjalan. Hingga kini kampungya dikenal luas di masyarakat.
”Karena berangkatnya kita bukan dari pembatik, semua murni dari pelatihan, memang tidak ada yang dari ahli batik. Akhirnya yang tidak tahu menjadi tahu.
Dari yang hanya sebatas mengikuti pelatihan jadi menekuni dan harus memproduksi batik. Akhirnya seperti ini,” kenangnya.
Terbilang nekat ketika membentuk dan menggerakkan masyarakat dalam proses pertama berdirinya kelompok batik turi. Meskipun begitu, Antok dan anggotanya tetap maju.
“Ketika baru launching menjadi kelompok batik, posisi kami masih tahap belajar. Langsung ada 50 pesanan dari DPRD Kota Blitar.
Sedangkan pesanan itu kita belum pernah belajar. Alhamdulillah bisa meskipun hasilnya kurang maksimal,” ungkap bapak tiga anak ini.
Kala itu, pelatihan batik yang pernah diikuti hanya terdapat materi membuat batik dengan warna remasol atau warna sintetis. Sementara permintaan DPRD pewarnaan batik menggunakan perwarna alam.
Motif bunga turi dan koi menjadi ciri khas batik kampung turi. Namun, dia dan kelompoknya tidak menutup kesempatan untuk membuat batik dengan motif lain.
”Yang penting dari batik itu mengangkat potensi yang ada di Kota Blitar”. Dengan pencapaian produk pertama dan berhasil sampai sekarang, batik motif turi pun akhirnya diangkat jadi produk unggulan daerah.
Terkait pemasaran, Antok sudah memanfaatkan pemasaran secara online. Ada juga yang secara langsung.
”Sejauh ini, paling banyak pesanan dari instansi pemerintah atau organisasi perangkat daerah (OPD),” terangnya.
Proses pembuatan batik turi sendiri terbilang cepat. Antok menjelaskan bahwa pengerjaan awal hingga akhir bisa diselesaikan dalam sehari.
Jikalau jumlahnya banyak, sehari bisa 20 sampai 28 lembar kain. Namun, kembali lagi tergantung cuaca.
”Buat jaga kualitas, biasanya setelah proses cap, sebelum di warna kita kontrol dulu. Pada proses warna juga kami kontrol.
Sebelum packing pun juga dikontrol lagi. Misal pernah ada kasus ketetesan. Itu tidak bisa dihapus kalau sudah kena kain,” jelasnya.
Omzet yang dihasilkan kelompok batik turi tiap bulan terbilang fluktuatif. Berkisar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta. Ketika di awal tahun rata-rata Rp 100 juta per bulannya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila