BLITAR - Kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di sekolah Kota Blitar tetap bergulir selama Ramadan. Namun, jam pembelajaran berubah. Selama bulan suci ini tiap jam mata pelajaran (mapel) dipangkas 5 menit.
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar Jais Alwi Mashuri mengungkapkan, pemangkasan itu berdasarkan hasil diskusi dengan komponen sekolah, melibatkan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Blitar.
Perubahan jam ini untuk memaksimalkan belajar siswa dan guru saat menjalankan puasa.
"Sebelumnya sudah dilakukan rapat MKKS (musyawarah kerja kepala sekolah) dan K3S (kelompok kerja kepala sekolah). Dipangkas karena hanya khusus saat bulan puasa," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, Senin (11/3/2024).
Rata-rata durasi mapel dalam satu jam sekira 35 menit. Jika dipangkas 5 menit, artinya siswa hanya akan ikut belajar selama 30 menit.
Jika diakumulasikan dalam 4 jam mapel, maka waktu yang dipangkas selama 20 menit. Aturan tersebut selalu berlaku tiap tahun.
Jam masuk sekolah turut berubah. Pada hari biasa, kelas pertama mulai pukul 07.00. Selama Ramadan, bel masuk kelas mundur menjadi 07.30.
Adapun, pemangkasan tiap jam mapel juga memengaruhi kepulangan sekolah jadi lebih awal. Biasanya kelas V-VI SD dan kelas VII-IX SMP pulang pukul 13.00. Selama Ramadan, mereka akan mengakhiri jam belajar pukul 12.10.
"Sudah kami sosialisasikan, melalui lembaga-lembaga. Supaya siswa bisa lebih siap, dan tidak terganggu sekolahnya," terangnya.
Aturan khusus ini nantinya diterapkan oleh seluruh lembaga SD-SMP dan lembaga di bawah naungan dispendik. Meski jam belajar di sekolah lebih singkat, kata dia, kualitas materi yang diberikan tenaga pendidik tetap sama.
"Sehingga mereka (siswa) bisa diberi kemudahan menjalankan ibadah. Dan, belajarnya juga tidak terganggu, walaupun secara waktu dan materi lebih efisien," jabarnya.
Pemangkasan jam sekolah ini menuai respons wali murid. Hartini, 44, warga Kecamatan Sukorejo menilai aturan itu memang harus dilakukan. Sebab, dalam kondisi berpuasa, kemampuan berpikir dan energi anak akan beda dari hari biasa.
Dia juga meminta sekolah bisa menjamin materi belajar dapat terserap baik oleh anak. Sehingga, tidak jadi beban ketika puasa, namun harus belajar seperti biasa.
"Ya sudah bagus, 5 menit. Selain itu, anak bisa istirahat dan bersiap untuk sekolah di hari berikutnya. Karena pulangnya cepat," tandasnya. (luk/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila