Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ganggu Harga Gabah, Petani Minta Pemkot Blitar Jangan Terlalu Sering Lakukan Operasi Pasar

M. Luki Azhari • Rabu, 13 Maret 2024 | 21:13 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

BLITAR- Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar berencana menggelar operasi pasar (OP) beras murah dengan menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) seperti beberapa waktu lalu.

Wacana itu bisa jadi dilakukan jika harga beras kembali melambung, khususnya saat Ramadan.

Ternyata, gelaran OP ini mendapat tanggapan yang berbeda dari kalangan petani. Seperti ketua kelompok tani di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Endi Susilo, Selasa (12/3/2024).

Dia mengatakan, OP beras murah tentu jadi idaman masyarakat. Utamanya yang terdampak kenaikan harga beras. Namun, OP tersebut harus dilakukan secara tepat dan terukur agar tak memengaruhi harga gabah.

"Setiap bulan, kami kumpul dengan petani, banyak yang dibahas. Juga soal OP, petani kemarin juga ada yang mengeluhkan," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Harga beras di pasaran sebelumnya sempat menyentuh Rp 16 ribu per kilogram (kg). Demikian juga harga gabah kering panen (GKP) saat ini Rp 8.500 hingga Rp 8.600 per kg.

Lalu, harga gabah kering giling (GKG) saat ini Rp 9.600 per kg dari sebelumnya Rp 6.400 per kg. Lonjakan harga gabah sudah terjadi sejak tahun lalu sebelum harga beras melambung.

Secara umum, naiknya harga gabah jadi kabar baik bagi petani. Tentu harga tersebut diharapkan bisa tetap bertahan. Di sisi lain, petani juga memikirkan fenomena yang terjadi di lapangan. Banyak masyarakat mengeluh akibat harga beras tak terkendali.

"Tapi kalau masyarakat menjerit, kasihan. Petani tidak mau terlalu tinggi harganya. Tapi paling nggak harga stabil. Misalnya, GKP Rp 6 ribu per kg cukup. Harapannya tidak berubah saat musim panen," harapnya.

Terkait OP, petani tak dapat memungkiri kekhawatiran potensi perubahan harga. Mereka cemas harga gabah juga ikut turun. Baik GKP maupun GKG.

"OP itu dari Bulog, sementara Bulog dapat beras secara impor. Ya memang kami perlu kestabilan harga. Bukan minta mahal atau murah banget. Yang pasti pingin harga stabil biar uang bisa diputar," terangnya.

Dia pun menyarankan agar pemerintah harus tepat ketika menggelar kegiatan tersebut. Tujuannya agar masyarakat dan petani sama-sama diuntungkan.

"Harapannya kalau OP jangan sampai bikin harga gabah turun sampai ke bawah. Jangan sering-sering. Nanti kalau sering-sering bisa mengganggu harga," lanjutnya.

Panen raya padi kemungkinan besar akan berlangsung usai Lebaran. Saat itu, harga GKP dan GKG diprediksi berangsur turun. Namun, dia berharap harga padi tidak kurang dari Rp 5.300 per kg. "Saat ini dengan harga gabah Rp 8.000 per kg, petani sangat menikmati," tandasnya.

Sebelumnya, Bulog Kancab Tulungagung memfasilitasi Pemkot Blitar saat OP beras murah. Dalam tiga hari OP beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), Bulog menggelontor beras medium sebanyak 24 ton. Meski begitu, tak sedikit masyarakat yang tidak kebagian. Hal ini membuat Disperindag Kota Blitar berencana mengajukan permohonan penambahan kuota beras saat OP.

"Saya juga sempat bertemu kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar. Ada rencana menggelar gerakan pasar murah, masih sebatas komunikasi," jelas Pemimpin Bulog Kantor Cabang (Kancab) Tulungagung, David Donny Kurniawan.

Sekadar diketahui, harga beras di pasaran saat ini mulai landai. Di Pasar Pon, beras kualitas biasa dijual Rp 15.000 per kg, kualitas sedang Rp 15.500 per kg, dan Rp 15.900 per kg untuk beras kualitas bagus.(luk/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#beras murah #bulog #Pemkot Blitar