Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menilik Masjid Baitul Yaqin Krenceng Nglegok Kabupaten Blitar, Napak Tilas Tempat Singgah Pelarian Soeprijadi

Jihan Wahida Rahma Salsabila • Rabu, 13 Maret 2024 | 19:42 WIB

 

BERSEJARAH: Tampak dalam masjid Baitul Yaqin, di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, diperkirakan usianya sudah ratusan tahun.
BERSEJARAH: Tampak dalam masjid Baitul Yaqin, di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, diperkirakan usianya sudah ratusan tahun.

BLITAR - Masjid Baitul Yaqin memiliki kisah sejarah dengan perkembangan Islam. Tempat ibadah di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, didirikan Kiai Hasan Mustaqim berasal dari Begelenan, Jawa Tengah, pada tahun 1861.

Ahli waris sekaligus pengurus masjid itu, Takhsis menceritakan, lokasi awal pendirian masjid berada di sebelah selatan. Namun, dipindahkan di lokasi sekarang karena tempatnya  lebih luas.

“Dulu wilayah sini masih hutan jati, bersamaan dengan pembangunan masjid juga dibangun pondok pesantren. Dulu zaman segitu santrinya masih banyak dari Begelenan,” tuturnya.

Pria 75 tahun itu menjelaskan, Kiai Hasan Mustaqim dikaruniai 12 putra dan putri. Putri pertamanya menikah dengan Kiai Abdul Yaqin yang merupakan putra dari Yudho Besari, anggota laskar Diponegoro. Kiai Abdul Yaqin juga merupakan santri dari Begelenan, Jawa Tengah dan pernah menuntut ilmu pada Kiai Muhammad Besari, Ponorogo.

Kegiatan di Masjid Baitul Yaqin ini bervariatif. Termasuk tawajuhan thoriqoh naqsabandiyah setiap Selasa; setiap satu bulan sekali diadakan pengajian umum mendatangkan ustadz dari Garum; satu bulan sekali diadakan khataman Alquran di makam Kiai Hasan Mustaqim; setiap malam Jumat dibaan putri; setiap malam Sabtu pengajian kitab; serta latihan hadrah putra pada malam Ahad; satu tahun sekali juga diadakan khataman Quran yang diikuti warga desa.

“Kegiatan setiap Ramadan ada buka bersama, kalau ngaji ada kultum sebelum Tarawih yang ngisi saya sendiri, juga tadarus Alquran selama Ramadan,” tuturnya.

Takhsis membeberkan, ingin mempertahankan arsitektur bagian dalam masjid. “Jikapun ada renovasi, mungkin nanti cukup di bagian-bagian luar. Bagian dalam masih otentik, saka (penyangga) yang ada di dalam kayu jati asli,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kedekatan ayah beliau dengan salah satu tokoh pahlawan nasional, Sodancho Soeprijadi. Kedekatan ayah beliau dengan Soeprijadi lantaran kakeknya sering dipanggil ke pendopo oleh bupati saat itu yang merupakan ayah Soeprijadi.

“Setelah pemberontakan sempat mampir kesini, paginya berangkat ke arah Garum bersama teman-temannya melanjutkan pelarian,” tuturnya.

Paman dari Takhsis, ditangkap oleh penjajah dengan tuduhan menyembunyikan pemberontak. Beliau dibawa ke Malang hingga Surabaya sampai akhirnya wafat. (mg3/din)

Baca Juga: Setelah 37 Tahun, Akhirnya Pasar Patok Kabupaten Blitar Miliki Bangunan Baru, Anggaran Hingga 3M

 

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #Masjid Baitul Yaqin